Bikin Mini Garden, Peserta seperti Mengerjakan Tugas Kelompok

Senyum para pengunjung Taman Budaya Yogyakarta (TBY) mengembang saat mengikuti workshop seni. Bahkan guyonan dan gelak tawa terdengar sesekali. Ya, workshop yang digelar oleh komunitas Komporseni ini bisa dibilang beda dengan lainnya. Bagaimana tidak, peserta dirangkul seperti teman.
HERPRIYANTO, Jogja
SUASANA menyenangkan terlihat saat workshop berlangsung. Sebab, materi yang disampaikan berbeda dengan workshop seni lainnya. Jika biasanya diisi dengan materi sablon kaus, melukis, dan foto. Workshop yang ini beda.

Adalah mini garden. Yaitu membuat semacam taman berukuran kecil. Lebih tepatnya seperti maket. Namun, di dalamnya diisi tanaman hidup. Tanaman hias berukuran kecil ditanam dalam sebuah mangkuk, cobek atau sejenisnya. Lalu dihias dengan mainan rumah-rumahan mini, seperti pagar, rumah, mobil, dan binatang mini.

Workshop yang diampu oleh Pingkan Intania dan Novi Kembar-Kembir ini mudah dibuat. Bisa dilakukan oleh siapapun, orang dewasa maupun anak-anak. Hasil jadinya juga ciamik. Cocok untuk hiasan di dalam rumah.

“Sangat menyenangkan. Saya tidak bosan. Ada saja materi baru. Semua fresh. Belum pernah ada workshop dengan materi unik-unik seperti ini,” kata Nadia salah satu peserta workshop.

Terlebih, peserta dibuat berkelompok sehingga terkesan seperti sedang mengerjakan tugas bersama. Workshop yang digelar 17 sampai 21 Oktober ini diadakan pukul 16.00 di selasar TBY. Untuk ikut, tinggal mendaftar saja dan tidak dipungut biaya alias gratis.

Anggota Komporseni Anto Sukanto mengungkapkan, Komporseni adalah komunitas seni rupa. Anggotanya merupakan anak-anak muda lulusan FSR ISI Jogjakarta angkatan 2004. Diketuai Pam-Pam Mahendra. Anggotanya, selain dirinya, juga ada Ratih Dewanti, Badar Henna, Novi Kembar-Kembir, Roeswanto Patung, Pingkan Intania, Didik 797, Nunu n Nutz, Ipik Fikri, Andika Jhon dan masih banyak lagi. Mereka berasal dari jurusan desain, lukis, grafis, kriya, dan patung.

“Masing-masing anggota membuka workshop sesuai bidangnya dengan materi yang berbeda setiap harinya,” ungkapnya.

Selain workshop mini garden, ada workshop coptic book binding yaitu menjilid lembaran-lembaran kertas dengan cara menjahit secara manual. Memakai teknik dan benang khusus sehingga selain tampil artistic juga tahan lama.

Ada juga workshop palette wood create. Papan irisan memasak atau telenan dihias menjadi papan nama. Menggunakan huruf-huruf timbul yang mudah pembuatannya. Lalu dihias menggunakan ornamen-ornamen. Semua bahan memanfaatkan barang-barang rumah tangga yang mudah didapat.

“Ada banyak materinya, seperti kreasi gelang kulit, batik, letter craft, hingga weapon cosplay,” jelasnya.

Menariknya lagi, hasil workshop merupakan barang-barang bernilai jual. Jika peserta mau, bisa menjadi modal untuk membuka bisnis craft. Disamping itu, lewat workshop seperti ini, juga ingin menyebarkan rasa seni ke khalayak. Bahwa seni tidak njlimet, namun bisa mudah dilakukan siapa saja.

“Seni itu begitu menyenangkan. Bisa dilakukan kapan saja. Membuka wawasan, bahwa seni tidak hanya dilakukan oleh orang yang mempunyai bakat saja. Tapi, seni menjadi lebih akrab dalam aktivitas keseharian,” ungkapnya. (ila/ong)