Pelanggaran pasal 232 KUHP juga terjadi di Bantul. Alfamart di Jalan Wates KM 13, Argosari, Sedayu yang telah disegel Satpol PP juga nekat beroperasi. Bahkan, karyawan toko hanya menunggu 30 menit setelah aparat meninggalkan lokasi. “Rombongan (Satpol PP) mungkur, langsung dibuka maneh,” ungkap Madyo, 71, warga Argosari kemarin (20/10).

Seingatnya, toko modern waralaba ini berdiri sekitar setahun lalu. Sehari-hari toko tersebut beroperasi mulai pukul 07.00-22.00. Jarak toko itu tak lebih seribu meter dari Pasar Semampir. Menurutnya, toko berjejaring tersebut cukup sering dikunjungi pembeli. Berbanding terbalik dengan toko-toko kelontong di sekitarnya.

Madyo menyebut, perbandingannya 50:1. Padahal, harga barang di toko kelontong jauh lebih murah. Air galon, misalnya, hanya dijual Rp 14.500, sedangkan toko modern menjualnya Rp 16.500.

“Rokok di tempat saya Rp 13.500. Di sana Rp 15.500,” papar pria yang juga pemilik warung kelontong ini.

Kasat Pol PP Bantul Hermawan Setiaji belum dapat dikonfirmasi mengenai kembali beroperasinya toko modern waralaba ini. Radar Jogja menyambangi ke ruang kerjanya. Tetapi, bekas kepala Kantor Pengelolaan Pasar tersebut tidak berada di ruangan. Handphone-nya juga tidak bisa dihubungi.

Sebagaimana diketahui, Satpol PP Bantul dan Komisi A DPRD Bantul menutup paksa toko tersebut, Rabu (19/10) karena tak berizin. Hal tersebut bertentangan dengan Perda No 17/2012 tentang Pengelolaan Pasar Tradisional. (zam/yog/ong)