JOGJA – Perubahan pola kehidupan masyarakat modern membuat angka kejadian penyakit alergi meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, kasus alergi banyak terjadi pada anak-anak.

Di Indonesia, dari sebuah penelitian yang dilakukan di Kota Jogja, ada prevelansi yang tinggi pada rhinitis alergi karena alergi makanan. Rinciannya, dari udang sekitar 12,63 persen, kepiting 11,52 persen, tomat 4,38 persen, putih telur sebesar 3,5 persen, dan dari susu sapi 3,46 persen.

“Resiko alergi yang meningkat, belum diikuti pemahaman dan penangangan alergi yang tepat dari orang tua,” kata Dr dr Wahyudi Istiono MKes dari Departemen Kedokteran Keluarga dan Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (19/9).

Wahyudi mengungkapkan hal tersebut saat roadshow edukasi “Tanggap Alergi”, yang dilakukan Badan Kerja Sama Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Pencegahan Fakultas Kedokteran Indonesia (BKSIKMKPFKI), Departemen Kedokteran Keluarga dan Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Unit Kerja Koordinasi (UKK) Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Sarihusada. Kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai alergi serta menyediakan advokasi bagi masyarakat dalam menangani alergi.

Ia melihat, masih banyak orang tua yang belum memahami cara mengenali alergi yang tepat. Kebanyakan dari orang tua tersebut mencoba mengambil solusi sendiri.

“Karena itu, dibutuhkan edukasi yang berkelanjutan dan komprehensif yang mudah dipahami mengenai alergi, sehingga orang tua dapat mengenai dan menangani resiko dan kejadian alergi dengan tepat, agar prevelansi alergi tidak terus meningkat,” paparnya.

Sedangkan dr Sumadiono SpA(K), dari Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr Sardjito Jogjakarta mengatakan, alergi merupakan bentuk reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap sesuatu yang dianggap berbahaya, walaupun sebenarnya tidak. Ini bisa berupa substansi pemicu alergi atau alergen yang masuk atau bersentuhan dengan tubuh.

“Beberapa faktor yang bisa meningkatkan resiko alergi pada anak. Yakni, riwayat alergi pada keluarga, kelahiran caesar, makanan tertentu atau sesuatu yang terhidup. Seperti, polusi yang termasuk polusi udara dan asap rokok,” jelas Sumadiono.

Khusus anak-anak, lanjut Sumadiono, studi di beberapa negara menunjukkan prevalensi alergi susu sapi pada anak-anak di tahun pertama kehidupannya antara 2-5 persen. Karenanya, pemberian nutrisi yang optimal pada kehidupannya, bisa mengurangi risiko alergi. Ia menyebut, air susu ibu (ASI merupakan yang terbaik bagi bayi dan anak yang mengalami alergi.

“Anak-anak yang terdiaknosa alergi protein susu sapi, ASI harus tetap diberikan. Ibu harus mengeliminasi susu sapi dan produk turunannya,” katanya.

Head of Tailored Nutrision Sarihusada dr Maria Melisa menjelaskan, Sarihusada memiliki program 3K, yaitu langkah praktis dalam mengatasi alergi pada anak, berupa Kenali, Konsultasikan, dan Kendalikan. “Edukasi ini dilakukan baik melalui penyuluhan langsung atau informasi yang bisa dilihat di situs alergianak.com,” katanya.

Lisa-sapaan akrab Maria Melisa menambahkan, selain di Jogjakarta, kegiatan serupa dilakukan di Surabaya Dn Medan.(hes/dem)