PURWOREJO – Ketiadaan grand desain pasar-pasar tradisional menjadikan pembangunannya kurang maksimal. Akibatnya perwajahan pasar tidak menarik dan bentuk bangunan berbeda antara kegiatan pertama, kedua atau berikutnya.

Hal yang terlihat jelas adalah bentuk fisik di Pasar Seren, Kecamatan Gebang, di mana keberadaan bangunan losnya berbeda antara proyek peningkatan di tahun sebelumnya dan tahun ini.

Kondisi itu terekam saat Bupati Purworejo Agus Bastian bersama jajaran Forkompimda, antara lain, Dandim 0708 Purworejo Letkol Aswin Kartawijaya, Wakapolres Kompol Sumaryono, perwakilan Kejaksaan Negeri, maupun dari Komisi B dan C DPRD Purworejo yakni Dion Agasi, Sutardi, Sugeng Santoso, Yudha Gunawan dan Rohman, melakukan sidak ke sejumlah pasar tradisional di Purworejo, kemarin (19/10).

“Kami melihat pembangunan pasar di Purworejo masih bersifat parsial atau tidak menyeluruh,” kata Ketua Komisi B Dion Agasi.

Dikatakan, penanganan pasar perlu dilakukan secara menyeluruh di mana konsep perencanaan harus lebih jelas dan terarah. Dengan konsep yang jelas, anggaran bisa disesuaikan dengan kebutuhan yang ada.

“Sebagai contoh di Pasar Seren dan Maron itu pekerjaannya sepotong-sepotong. Kita juga bingung konsepnya seperti apa,” tambah Dion.

Sugeng Santoso, anggota Komisi B menyoroti pembangunan di Pasar Maron Kecamatan Loano, di mana perwajahannya tidak menarik. Pintu utama di bagian depan terlalu sempit. Kondisi itu masih diperparah keberadaan tiang los yang seolah menutup pintu.

“Pintunya harus diperlebar dan kalau bisa keberadaan tiang itu dibuat sedemikian rupa agar tidak menghalangi jalan,” kata Sugeng.

Salah satu sorotan di Pasar Kaliboto, Kecamatan Bener, Sutardi menanyakan adanya kios-kios yang berada di atas bangunan peruntukan los. Ada bangunan yang dibuat permanen dan menggunakan roling door. “Ini peruntukannya bagaimana, masa los untuk kios. Ibaratnya ada pasar di dalam pasar ini,” kata Sutardi.

Menanggapi berbagai pertanyaan yang dilayangkan anggota dewan, Kepala Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan dan Pariwisata Kabupaten Purworejo Suhartini menyatakan, penanganan memang belum bisa dikonsentrasikan di satu tempat. Pihaknya sudah pernah mengusulkan hal itu, tapi mereka mengaku tidak sendiri.

“Sebetulnya kalau kami ingin satu pasar jadi, satu pasar jadi. Kepenake (enaknya) memang satu pasar jadi dulu,” ujar Suhartini. Ditambahkan jika memang bisa dilakukan satu pasar dijadikan lengkap, sebenarnya akan memudahkan pihaknya. Karena di tahun-tahun berikutnya tinggal melakukan perawatan.

Terkait kegiatan sidak, Bupati Agus Bastian mengatakan jika pasar tradisional adalah simbol bergeraknya sektor ekonomi masyarakat. Pihaknya berkomitmen bahwa pasar-pasar yang menjadi kewenangan pemkab akan dilakukan renovasi.

“Pasar adalah target kita. Saat saya pensiun nanti tidak mau membicarakan lagi tentang pasar. Pertama ini saya datangi pasar-pasarnya dan nanti kita buat DED-nya dan kita akan mewujudkan pasar-pasar yang ada memang layak dikunjungi,” kata bupati.

Pihaknya berkeinginan dalam pembangunan pasar tidak hanya sebagian saja akan tetapi menyeluruh. Pasar juga harus bersih dan tertata dengan baik.

Ndandani pasar itu ya sisan. Tidak hanya sebagian ruangnya, kemudian ada juga ditembel-tembel saja. Kita tidak ingin seperti itu,” tegas Agus. (udi/laz/ong)