Hasil Barter dengan Beras 10 Kg, Penasaran Seragam Milik Ronny Wabia

Meski dinilai minim prestasi di tingkat internasional, pecinta klub sepak bola Indonesia masih sangat setia. Salah satunya adalah Dimas Wihardyanto, 34. Dia mewujudkan kecintaannya itu dengan mengoleksi lebih dari 500 jersey klub lokal Indonesia.
RIZAL SETYO NUGROHO, Sleman
PRIA kelahiran Jakarta, 27 Juni 1982 itu mulai serius mengumpulkan seragam pemain sepak bola sejak 1997. Saat itu, dia masih duduk di bangku SMA. Dimas, sapaannya, juga sempat menjadi pemain klub amatir ketika itu.

“Awalnya karena senang nonton bola di stadion. Sering lihat latihannya, kenal pemain dan akrab. Iseng-iseng minta, eh dikasih jadi keterusan. Sampai sekarang masih ngoleksi,” katanya kepada Radar Jogja, Selasa (18/10).

Koleksinya tertata rapi di dalam dua almari kaca terpisah. Satu lemari di lantai bawah, sedangkan koleksi lainnya berada di lemari yang ada di lantai dua rumahnya.

Koleksi pertamanya adalah kostum Persebaya milik pemain belakang Hartono. Dia satu angkatan dengan Hendro Kartiko, Anang Maruf, Aji Santoso, Bejo Sugiantoro, dan Uston Nawawi. Saat itu Persebaya bertanding melawan PSIM Jogja di Jogjakarta.

Bapak satu anak yang saat ini bermukim di Jalan Kaliurang, Pogung Baru W5 itu sempat menjadi kontributor foto untuk beberapa media di Jogja dan Jawa Tengah. Karena itu, dia dekat dengan beberapa pemain, pengurus klub, kitman, dan wasit di DIJ. Hal itu dimanfaatkannya untuk menambah koleksi jersey-nya.

Salah satunya adalah jersey Marcelo Braga yang pernah memperkuat PSS Sleman. Jersey itu dia dapat dari seorang wasit yang dikenal dekat dengan pemain asing asal Chile tersebut. Dosen Teknik arsitektur UGM itu juga mempunyai empat helai jersey Laskar Sembada musim 2003-2005.

“Kalau dilihat dari tahunnya, paling lama kaus timnas almarhum Iswadi Idris. Kebetulan anaknya pernah satu sekolah dengan saya di SMA 3 Jogja. Karena sudah akrab iseng-iseng saya bilang Om kalau ada kausnya saya mau, eh dikasih. Itu dipakai pada 1986. Ada kotor-kotor bekas jatuh tapi masih layak,” jelasnya.

Dari kostum-kostum tersebut juga banyak cerita unik yang didapat. Salah satunya jersey home PSS warna hijau Marcelo Braga tahun 2005 yang dia dapat sekitar 2014 silam di Lampung. Saat itu dia sedang mendampingi mahasiswanya yang menjalani KKN di tempat itu.

“Ada bapak-bapak sedang menyadap getah karet memakai kaus Marcelo Braga. Ternyata didapat dari anaknya yang kuliah di Jogja. Anaknya itu tetangganya Marcelo. Akhirnya saya tukar dengan 10 kilogram beras, untungnya bapak itu mau,” ceritanya.

Mengenai kegemarannya memburu koleksi-koleksinya, dia tidak menargetkan harus selalu dapat. Namun dengan sabar akan diusahakan. Dia juga mengaku tidak mengincar khusus jersey pemain setelah pertandingan. Sebab, pendekatannya lebih pada rasa kekeluargaan dan menjalin silaturahim sesama pengoleksi kostum lokal.

“Dulu yang paling sulit ingin punya kostum Pra-olimpiade 2000 milik Widodo Cahyono Putro. Saya tahu ada yang punya di Bali. Saya dekati selama setahun belum mau dilepas, terus saya sudah hampir lupa. Tahu-tahu dia malah yang menghubungi karena perlu uang. Saya tebus Rp 5 juta,” ungkapnya.

Setelah di tangannya jersey tersebut pernah ada yang menawar sampai Rp 15 juta. Namun dia belum ingin melepasnya. Sebab dia masih ingin merawat ingatannya tentang sejarah timnas kala itu.

Jika ditilik ke lemari koleksinya, dia memang hanya mengoleksi jersey tim lokal. Menurutnya, hanya klub-klub yang memiliki kedekatan dengannya yang akan dikoleksi. “Kalau yang masih penasaran, jersey Ronny Wabia saat Piala Asia 1996. Itu pertama kali Indonesia masuk Piala Asia. Saya tahunya ada yang punya di Manado, masih akan coba saya kejar. Karena itu saksi sejarah,” paparnya. (riz/ila)