Dulu untuk Sesaji, Kini Semakin Jarang Ditemui

Namanya Kolmbeng, konon asal nama roti khas asal Sidorejo, Lendah, Kulonprogo, ini “kolo emben” yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesa artinya “zaman dulu kala”. Maka, sudah tentu roti ini jadul sejak dari namanya. Bagaimana kini kondisinya, mampukah bertahan di tengah gempuran zaman dengan ribuan variasi makanan pabrikan?
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
AROMA roti Kolmbeng begitu mengundang selera. Aroma manis dan lembut, bahkan sudah terasa ketika adonan roti itu masih dipanggang di tungku gerabah. Dengan telaten, perajin roti ini memasukkan adonan ke cetakan, kemudian ke tungku gerabah yang didesain bertumpuk dengan bara api dari arang.

Roti yang sekilas seperti surabi bengkak itu dulu hanya dikenal sebagai makanan sesaji. Hanya banyak dipesan saat masuk bulan ruwah. Namun kini roti ini sudah dijual bebas, tidak wingit dan sacral, dan bisa dinikmati siapa saja.

“Variasi makanan saat ini semakin banyak, termasuk roti saset produk pabrikan yang memiliki kemasan lebih bagus dan promosi yang gencar. Kami kalah di situ,” ucap salah seorang perajin roti Kolmbeng, Sutikno, 41, warga Dusun Diran, Sidorejo, Lendah, Kulonprogo, kemarin (18/10).

Sutikno adalah generasi kedua perajin Kolmbeng. Bahkan di Sidorejo hanya ada tiga perajin roti berbahan baku tepung tapioka, gula dan telur ini. Itu pun tak lain masih saudara Sutikno sendiri, yakni Iswanta, dan Giman Ciptodiono (bapak kandung Sutikno).

“Saya memulai produksi roti ini tahun 2006, meneruskan usaha bapak sejak 1998. Kalau dulu bapak ikut membuat roti ini di kampung Kauman, dekat Pura Pakualaman, sekitar tahun 1990 hingga 2000. Karena sepi terus pulang buat sendiri di rumah,” jelas Sutikno.

Dilihat dari proses produksinya terbilang agak rumit dan membutuhkan teknik yang tidak bisa dilakukan sembarang orang. Bahan bakunya dipilih secara jeli, tepung tapioka tidak boleh diganti untuk menghasilkan warna roti yang putih dan mekarnya bagus. Gula juga dipilih gula kristal yang putih dengan kadar air rendah, telurnya juga harus cukup sesuai takaran adonan.

“Pertama tepung dan gula campur selama kurang lebih satu setengah jam. Pencampuran dilakukan secara manual tanpa mesin, setelah itu dicetak di loyang khusus terbuat dari alumunium. Baru kemudian dipanggang dengan mandeng gerabah (open) yang hanya diproduksi dari Sedayu,” katanya.

Soal kendala, Sutikno mengaku kualitas bahan baku kadang kurang stabil, karena gula harus dipilih yang benar-benar gula kristal putih, di mana kadar airnya sedikit. Jika asal menggunakan bahan baku, risikonya roti tidak mengembang sempurna.

Dengan proses manual, dua perajin hanya mampu memproduksi 500 biji sehari. Harganya juga relatif murah, Rp 1000-Rp 1500 per biji di pasaran. Selain di Kulonprogo, pemasarannya juga di Godean, Bantul, Kota Jogja, dan Sleman.

“Sejauh ini ya lumayan bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan anak. Kami tidak ada rencana mengembangkan produksi atau menambah varian rasa atau bentuknya. Kami tetap akan mempertahankan kekhasannya sampai,” ungkapnya.

Salah seorang pembeli, Zuhri dari Bantul mengungkapkan, rasa roti Kolmbeng cukup nikmat, apalagi disantap dengan teh hangat. “Rasanya pulen. Kalau yang belum terbiasa memang agak seret, tetapi manis dan legit. Harganya juga ekonomis, cocok untuk kudapan keluarga,” ungkapnya. (laz/ong)