SLEMAN – Pemkab Sleman tak henti-hentinya mendorong masyarakat petani agar mau mengolah hasil produksi pertanian. Hal itu demi mendongkrak nilai ekonomi hasil panen produk pertanian. Wakil Bupati Sri Muslimatun kembali menyampaikan imbauannya tersebut di sela acara gelar potensi pertanian di Pelaksana Teknis Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (UPT BP3K) wilayah VI Sleman kemarin (18/10).

Muslimatun mengajak petani agar mengubah mindset dalam pemanfaatan hasil panen. Demi meningkatkan daya saing dan kesejahteraan mereka sendiri.

“Kalau dulu hanya sebatas menanam, memanen, dan menjual hasil panennya. Kalau sekarang harus berani untuk mengolah menjadi ragam produk. Nilai ekonomi jauh lebih tinggi,” tuturnya.

Muslimatun mencontohkan Singapura. Meski negara kepulauan itu tak memiliki lahan pertanian yang memadai, SIngapura mampu mengemas produk coklat hingga kualitas ekspor. Ternyata, bahan bakunya didatangkan dari luar negara. Termasuk salah satunya dari Indonesia.

Melihat kondisi itu, Muslimatun optimistis petani Indonesia mampu melebihi Singapura. Setidaknya, strategi Negeri Singa bisa menjadi motivasi bagi petani lokal. Dikatakan, pemanfaatan produk pangan lokal akan mendukung kemandirian pangan. Selain itu, meminimalisasi pembelian produk pangan dari luar daerah.

“Saya melihat ada potensi olahan cokelat dari Desa Bimomartani, Ngemplak. Itu bisa dikembangkan agar memiliki pasar yang luas. Potensi lahan dan pangan lokal di Sleman itu sangat besar. Makanya harus terus didorong,” ujar Muslimatun.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (Dispertanhut) Sleman Widi Sutikno mengatakan, petani bisa lebih berhasil dalam pengembangan produk olahan hasil pertanian jika memanfaatkan teknologi modern.

Dalam kesempatan itu, Widi memamerkan turbin air bertenaga angin dan solar cell. Menurutnya, petani yang memanfaatkan teknologi tersebut sangat terbatas. “Masih banyak petani yang belum tahu manfaat teknologi tepat guna ini,” ungkapnya.

Turbin tersebut bekerja tanpa bantuan daya listrik PLN. Hanya memanfaatkan angin dan panel sinar matahari. “Sangat bagus untuk meningkatkan hasil produksi tertentu. Jadi juga turut mendukung agar para petani kita melek teknologi,” lanjut Widi.

Diingatkan, setiap produk olahan hasil petanian harus terdaftar di pemerintah dan mengantongi izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari Dinas Kesehatan. Syarat ini wajib bagi produk pangan level rumah tangga yang akan dipasarkan.

Perizinan tersebut untuk mengetahui produk pangan layak makan atau tidak. Juga untuk mendeteksi kandungan gizi dan bahan bakunya. (dwi/yog/ong)