JOGJA – Medical Tourism harus dikembangkan di Indonesia. Adapun yang bisa dilakukan adalah bidang stem cell (sel punca) tourism. Alasannya, negara tetangga yang juga mengembankan Medical Tourism tidak fokus pada hal tersebut.

“Indonesia harus fokus pada bidang stem cell tourism, di saat negara-negara tetangga fokus pada medical tourism lainnya,” kata Direktur Stem Cell and Cancer Institure (SCI) dr Sandy Qlintang, usai seminar tentang Stem Cell di Auditorium FK UGM, Sabtu (15/10).

Menurut Sandy, pengembangan fasilitas pengelolaan stem cell akan berdampak positif bagi sektor pariwisata (stem cell tourism). Pasien dari luar negeri yang melakukan terapi stem cell di Indonesia tentu harus menunggu hingga stem cell berkembang dan siap ditanam.

“Selama menunggu itu, pasien diajak berkeliling menikmati objek-objek wisata,” paparnya.

Saat ini, tantangan yang nyata adalah sedikitnya masyarakat yang paham soal terapi stem cell untuk kesehatan. Padahal, pemerintah telah memberi lampu hijau pengembangan riset stem cell. Khususnya autologous atau stem cell yang diambil dari tubuh pasien sendiri. Untuk mengenalkan terapi stem cell ini, Kalbe menyelenggarakan program edukasi kesehatan bertajuk ‘dr Boenjamin Setiawam Distibgished Lecture Series’ (DBSDLS) 2016 bagi dokter, dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK).

“DBSDLS sebagai upaya Kalbe dan SCI berbagi informasi mengenai kemajuan mutakhir yang dicapai dalam perkembangan teknologi dan riset terkini,” tegas Sandy.

Sany memaparkan, tubuh manusia memiliki banyak jenis sel yang bersumber dari sel punca atau stem cell. Saat stem cell membelah, akan memperbanyak diri menjadi sel-sel spesifik atau sel jenis lain yang akan memperbaiki organ tubuh yang rusak.

“Butuh waktu 3-4 minggu untuk mengkultur stem cell sebelum ditanam dalam organ tubuh pasien,” jelas Sandy.

Saat ini, tren penyakit degeneratif (tidak menular) terus meningkat, seiring bertambahnya usia harapan hidup penduduk Indonesia. Penyakit tersebut, antara lain alzheimer, parkinson, stroke, jantung dan ginjal. Sebagaian besar terapi hanya mengobati gejala dan menunda perkembangan penyakit tersebut. Salah satu terapi yang cukup menjanjikan bagi penyakit degeneratif adalah stem cell.

“Keberhasilan pengembangan penelitian dan penggunaan stem cell sebagai terapi anti-ageing bagi penduduk Indonesia, khususnya usia lanjut membuka peluang bagi masyarakat luas untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Penerapan terapi ini memungkinkan masyarakat memiliki masa produktivitas dan jangka waktu hidup yang lebih penting. ” katanya.

Sejak 2006, pusat penelitian PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) di bidang sel punca dan kanker telah meraih berbagai kemajuan penting. Melalui DBSDLS, diharapkan dokter, peneliti dan pemangku kebijakan di Indonesia bisa mengikuti perkembangan riset dan teknologi sel terkini.(hes/dem)