JOGJA – Hujan dengan intensitas tinggi tak hanya mengancam permukiman saja. Sebab, dampak bencana alam yang ditimbulkan, seperti longsor dan banjir, juga mengancam lintasan kereta api.

Mengantisipasi banjir dan longsor di sepanjang lintasan kereta api, PT KAI Daerah Operasi (Daop) 6 Jogjakarta membuat drainase dan pondasi berkawat. Terutama di titik-titik daerah rawan dengan kondisi tanah yang labil.

Manajer Humas Daop 6 Jogjakarta Eko Budiyanto mengungkapkan, ada beberapa titik yang harus diwaspadai, baik tanah longsor maupun banjir. Seperti di lintas Solo hingga Kaliyoso, dan Guprak hingga Gundi. Menurutnya, tanah di daerah lintasan tersebut cukup labil, karena kondisinya berbeda saat musim hujan dan ketika cuaca panas.

“Kondisi tersebut sudah kami antisipasi dengan membuat drainase. Lintasan yang dekat aliran sungai kami buat pondasi dengan jaring berkawat. Di setiap titik rawan tersebut juga ada petugas yang intens mengawasi tiap hari,” paparnya, kemarin (17/10).

Dijelaskan, daerah lintasan yang kemungkinan besar terjadi banjir dan mengganggu lintasan yakni di daerah Masaran, Jawa Tengah. Karena posisinya dekat dengan aliran sungai Bengawan Solo, yang jika curah hujan tinggi airnya bisa meluap. “Sudah mengantisipasi dengan melakukan pemantauan yang dilakukan oleh petugas khusus. Tak hanya di Bengawan Solo saja, tapi juga di jembatan di atas sungai Progo dan Prambanan,” ungkapnya.

Eko mengatakan, keselamatan menjadi pilar utama. Untuk itu, pihaknya sudah melakukan antisipasi agar KA setiap harinya berangkat dan sampai tepat waktu, serta tidak terjadi kecelakaan. “Jadi setiap pegawai kereta api yang ada di lintasan memastikan setiap hari dan mengecek kondisi rel atau trek agar selalu aman,” ujarnya.

Eko mengatakan, kondisi trek di wilayah Daop 6 mulai dari perbatasan Kutoarjo sampai Kedung Banteng (Kertosono) dan Wonogiri hingga ke arah Gundi sudah cukup bagus. Bahkan, lintasan yang ada di Daop 6 termasuk yang paling aman di Indonesia.

Dengan kondisi curah hujan seperti ini, okupansi KA menurutnya tidak berpengaruh, bahkan okupansinya tetap 100 persen. “Saat musim hujan seperti ini masyarakat cenderung memilih KA, mungkin karena tingkat keamanan dan tepat waktu dibanding transportasi lain,” ujarnya. (dya/ila/ong)