BANTUL – PSIM Jogja berhasil menjungkalkan PSCS Cilacap 3-1 di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, kemarin (15/10). Pertandingan sempat dihentikan wasit selama 15 menit karena terjadi kerusuhan antarsuporter di menit 42. Dengan hasil ini membuat PSIM mengoleksi enam poin dari hasil dua kali menang dan satu kali kalah.

PSIM mencetak gol di menit 7 melalui sepakan Gilang Pratama. Tendangan bebasnya meluncur manis di pojok kanan atas mistar gawang tanpa mampu dihalau kiper PSCS Ega Rizky Pramana. Tendangan bebas diberikan wasit M. Nizar setelah akselerasi Rangga Muslim dihentikan Bagus Nirwanto.

PSCS membalas 10 menit kemudian. Memanfaatkan kelengahan Said Marjan Bagus Nirwanto melepaskan tembakan di dalam kotak penalti. Sayang arah bola masih melambung beberapa sentimeter di atas mistar.

Menit 24 Syaiful Lewenusa melepaskan tendangan bebas yang membahayakan gawang Tito Rama. Beruntung Tito masih sigap menjaga gawangnya dari kebobolan.

Di tengah jual beli serangan antara kedua tim, kericuhan pecah di menit 42. Di tribun sebelah timur, sesama pendukung PSIM terlibat bentrok. Akibatnya pertandingan sempat dihentikan selama seperempat jam. Seorang polisi terluka terkena lemparan petasan, sementara dua penonton pingsan.

Saat pertandingan dilanjutkan tidak ada gol tambahan, skor ditutup babak pertama 1-0 untuk PSIM.

Selepas rehat, PSIM menambah keunggulan menjadi 2-0. Serangan balik cepat Rangga Muslim dijegal Bagus Nirwanto di dalam kotak terlarang di menit 53. Tanpa ampun pengadil menunjuk titik putih. Eksekusi Muhammad Rifky berhasil mengoyak gawang PSCS.

Tertinggal dua gol, PSCS mencoba membalas. Hasilnya di menit 58 tendangan bebas Rendy Saputra bisa disundul Taryono. Laskar Nusakambangan itu memperkecil margin menjadi 2-1.

Tuan rumah kembali menjauh di menit 64. Kali ini tendangan bebas Pratama Gilang kembali memperdayai kiper Ega Rizky. Skor 3-1, Pangeran Biru memimpin. PSCS mencoba membalas namun sampai peluit panjang dibunyikan tidak ada gol tambahan tercipta.

Pelatih PSCS Gatot Barnowo mengatakan, secara permainan kedua tim bermain bagus dan menarik. Namun PSIM bermain pintar dengan organisasi permainan yang bagus. Selain itu, bermain sejak pukul 14.00 kondisi suhu yang panas juga memengaruhi permainan anak asuhnya.

“Sejak pemanasan, panasnya sudah seperti itu. Sementara di Cilacap kami tidak bisa latihan siang karena hujan terus,” katanya saat jumpa pers seusai pertandingan.

Ia menyesalkan adanya bentrok suporter di penghujung babak pertama. Padahal saat itu grafik permainan timnya sedang menanjak, namun pertandingan dihentikan wasit. “Padahal tidak menggangu pertandingan. Ini menjadi keuntungan tuan rumah, kami terpaksa off dan harus menaikkan tempo kembali,” ujarnya.

Gatot juga memuji permainan PSIM yang dinilai mempunyai motivasi bermain berlebih. Dengan mayoritas pemain muda, mereka memiliki fighting spirit tinggi dan membuat pemainnya kaget.

“Mereka melakukan pressing di sepertiga daerah dan lebih berkembang. Proses gol bisa kami terima, memang komunikasi penjaga gawang dan bek ke depan akan kami perbaiki lagi,” tandasnya.

Sementara itu, Pelatih PSIM Jogja Erwan Hendarwanto mengaku puas dengan kerja keras dan permainan luar biasa anak asuhnya. Rangga Muslim dkk menunjukkan progres peningkatan permainan di setiap partai yang dijalani.

“Gol pertama sangat cepat membuat moral anak-anak terangkat. Permainan anaka-anak juga bisa mengimbangi PSCS yang mempunyai pengalaman dan kualitas di atas kami,” katanya.

Disinggung mengenai proses tiga gol yang berasal dari bola mati, menurut pria asal Magelang ini, dinilai wajar. Dengan kualitas dan pengalaman pemain di atas anak asuhnya, ia tidak bisa meminta lebih dengan hasil tersebut. “Semua harus kami coba, baik dari open play maupun bola mati,” tandasnya. (riz/laz/ong)