JOGJA – PT Pertamina akhirnya menggelar operasi pasar (OP) gas elpiji 3 kilogram di 12 lokasi berbeda di wilayah DIJ kemarin (16/10) dan hari ini (17/10). Langkah itu sebagai respons atas keluhan masyarakat yang kesulitan mendapatkan gas bersubsidi tersebut. Dalam OP, gas melon dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan gubernur DIJ sebesar Rp15.500 per tabung.

Hari pertama OP dipusatkan di dua titik, yakni Jetis, Kota Jogja dan Kalasan, Sleman.

Sales Executive Elpiji Pertamina Region IV Jogja R. Dorojatun Sumantri mengatakan, di setiap titik OP disiapkan 360 tabung gas melon. “Besok (hari ini) kami lanjutkan operasi pasar di wilayah Jogja, Sleman, dan Bantul,” ujarnya kemarin (16/10).

Sesuai jadwal OP hari ini, di Kota Jogja diadakan di Kotagede dan Mantrijeron. Di Bantul OP diselenggarakan di Imogiri, Pajangan, Kretek, dan Sanden. Sementara di Sleman dilaksanakan di Godean, Sayegan, Cangkringan, dan Prambanan. “Jika masyarakat masih membutuhkan operasi pasar bisa kami perpanjang sampai Selasa, Rabu, dan seterusnya,” lanjut Odi, sapanya.

OP diprioritaskan untuk warga kecamatan setempat dengan menunjukkan KTP asli. Tiap warga dibatasi maksimal hanya bisa membeli dua tabung gas. “Kami memastikan supaya tepat sasaran,” ujarnya.

Area Manager Communication and Relations Pertamina Jawa bagian Tengah Suyanto menambahkan, sejak awal Oktober telah disiapkan alokasi tambahan sebanyak 312.68 metric ton atau sekitar 6,3 persen dari total gas elpiji tiga kilogram yang beredar di DIJ. “Bahkan minggu kedua Oktober, Pertamina kembali menambah alokasi di DIJ hingga hingga lima persen atau sekitar 76.000 tabung,” jelasnya.

Lebih lanjut Suyanto mengingatkan, gas melon merupakan barang bersubsidi yang menjadi komoditas bagi warga miskin dan usaha kecil. Untuk itu dia mengimbau masyarakat yang sudah tidak tergolong miskin agar beralih ke produk elpiji nonsubsidi. Imbauan itu juga berlaku bagi pelaku bisnis perhotelan dan restoran, serta industri menengah ke atas. “Konsumen sebaiknya tidak melakukan pembelian gas secara berlebihan dengan cara menimbun stok terlalu banyak di rumah,” tuturnya.

Untuk memastikan harga sesuai HET, Suyanto meminta masyarakat membeli gas melon di pangkalan resmi. Di DIJ total terdapat 17 agen resmi yang menyalurkan elpiji, baik subsidi maupun nonsubsidi ke berbagai lokasi. Sedangkan pangkalan resmi berjumlah 4.087. “Pangkalan resmi terdapat papan nama khusus yang mencantumkan nama pemilik pangkalan, alamat lengkap pangkalan, asal agen penyedia dan keterangan HET yang berlaku,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Seksi Bimbingan Perdagangan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Jogja Tri Astuti Apriyantini mengklaim tak ada kelangkaan gas elpiji dalam sebulan terakhir. Hanya, diakui adanya peningkatan permintaan sebelum Sura (Muharam) dalam kalender Jawa karena saat itu banyak hajatan warga.

Sebagaimana pernyataan Suyanto, pada September lalu terjadi peningkatan konsumsi gas melon hingga tiga persen dari kebutuhan rata-rata normal di seluruh DIJ. (pra/yog/ong)