Ada 5.000 Varian, Tak Ditemukan di Daerah Lain

Potensi anggrek endemis lereng Merapi Vanda Tricolor cukup besar. Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun berharap varian ini terus dikembangkan. Selain dari segi varian, jenis anggrek hutan ini tidak ditemui di daerah lainnya.
SLEMAN, Dwi Agus
Sleman, khususnya di kawasan lereng Merapi, memiliki kekuatan dalam dunia botani. Salah satunya adalah varian anggrek Vanda Tricolor. Dari segi warna dan aroma, anggrek hutan ini patut menjadi pilihan koleksi.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun juga mendukung agar anggrek jenis ini menjadi ciri khas Sleman. Upaya yang dilakukan dengan mendorong Sleman sebagai kawasan komoditi Anggrek. Alasannya, selain Vanda Tricolor, Sleman juga memiliki keberagaman jenis anggrek lainnya.

“Mengundang wisatawan untuk berkunjung dan melihat anggrek Vanda Tricolor. Saat mereka membeli, mereka jadi agen kita di daerah masing-masing. Ini lho anggreknya Sleman khas lereng Merapi,” ujarnya, saat pembukaan Festival Anggrek Vanda Tricolor di Taman Anggrek Titi Orchids Harjobinangun, Pakem, Sleman, Sabtu (15/10).

Pada acara ini, Wabup juga dinobatkan sebagai Duta Anggrek Tingkat DIJ. Gelar ini diberikan langsung oleh Ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) DIJ Endang Semiarti. Hal ini sekaligus mendorong Muslimatun turut melestarikan Vanda Tricolor di Sleman.

Langkah sederhana yang dilakukan diawali dari ruang kantornya. Muslimatun berjanji akan memajang anggrek ini di ruang kerjanya. Ini sebagai langkah awal mengenalkan potensi Sleman kepada tamu yang berkunjung ke kantornya.

“Saya sendiri memang suka tanaman, apalagi anggrek. Menjadi kebanggaan tersendiri dinobatkan sebagai Duta Anggrek. Apalagi menjaga dan melestarikan anggrek khas varian lereng Merapi,” katanya.

Selain itu Muslimatun juga menyerahkan beberapa bibit anggrek. Bibit ini diterima Ketua Pengelola Desa Wisata Pentingsari Cangkringan Sleman Doto Yogantoro. Ke depan bibit-bibit ini dapat dikembangkan dan dibudidayakan di kawasan lereng Merapi.

Ketua PAI DIJ Endang Semiarti menilai Sleman memiliki potensi besar dalam dunia anggrek. Dari data yang dihimpun, ada sekitar 5.000 varian anggrek di kawasan lereng Merapi. Jumlah varian anggrek di dunia sendiri mencapai 30 ribu varian.

“Bisa menjadi potensi yang sangat besar bagi Jogjakarta, khususnya Sleman. Kebanyakan tergolong anggrek hutan dan beberapa di antaranya sudah dibudidayakan,” jelasnya.

Sayangnya seiring waktu jumlah spesies anggrek hutan di Merapi menurun. Tepatnya saat terjadi erupsi Merapi pada 2010 lalu. Ragam spesies yang awalnya mencapai 70 jenis, saat ini tinggal 50 spesies anggrek.

Upaya mengembalikan ragam spesies dilakukan dengan pembudidayaan buatan. Caranya dengan melibatkan petani anggrek maupun kolektor. Petani anggrek Merapi, menurut Endang, memiliki peran besar dalam pelestarian ini.

“Dari beberapa aspek, kawasan lereng Merapi memenuhi syarat untuk pembudidayaan anggrek. Hanya memang butuh ketelatenan untuk merawat dan melestarikan. Contoh untuk Vanda Tricolor, jangka waktu tumbuh daun yang cukup lama mencapai tujuh tahun dari bibit ditanam,” ujarnya.

Inisiator Festival Anggrek Vanda Tricolor Hj Sri Suprih Lestari bangga festival ini terus berkembang. Kegiatan yang awalnya diperuntukkan bagi kolektor dapat mengundang antusiasme warga. Bahkan turut menambah minat warga untuk mengoleksi anggrek. (laz/ong)