SLEMAN – Para perupa Jogjakarta melukis bersama anak-anak penyandang disabilitas di Disaster Oasis Pakem Sleman, kemarin (16/10). Kegiatan ini sekaligus mengenalkan bahaya potensi bencana alam melalui seni. Keterlibatan para perupa ini menjadi salah satu cara efektif kampanye keselamatan di kawasan rawan bencana (KRB).

Beberapa perupa yang yang turut andil dalam kegiatan ini antara lain Godod Sutejo dan Kartika Affandi. Mereka terlihat menyatu dengan perupa lainnya. Kartika yang mengenakan kursi roda melukis beragam objek dalam kanvas lukisannya.

“Kegiatan seperti ini penting sebagai wujud edukasi bencana. Keterlibatan seniman juga membuat kegiatan lebih menyenangkan. Tidak terkesan tegang, tapi pesan yang disampaikan bisa diterima oleh semuanya,” ujar Godod Sutejo.

Direktur YAKKUM Emergency Unit (YEU) Adiran Askari menyambut positif peran serta perupa. Menurutnya, kampanye kesiagaan bencana dapat melibatkan semua elemen masyarakat. Justru dengan kesadaran ini mendukung keselamatan hidup masyarakat di KRB.

Dalam kesempatan ini para penyandang disabilitas turut menuangkan karyanya. Tujuan dari kegiatan melukis ini sendiri adalah charity, di mana seluruh hasil keuntungan dari penjualan karya sebagai dana respons bencana.

“Tema yang kita usung adalah Melukis tentang Kebersamaan. Menunjukan bahwa tidak ada perbedaan di antara kita. Semua tetap bisa saling berkarya dan peduli dengan cara masing-masing,” ujarnya.

Kegiatan ini sekaligus mendukung adanya program Sister School. Program yang telah berjalan sejak November 2015 ini melibatkan 26 sekolah di KRB 3 hingga KRB 1. Prosesnya dengan mendukung proses kegiatan belajar mengajar pascabencana alam terjadi.

Direktur YEU dr Sari Mutia Timur menjelaskan, pendidikan termasuk trauma healing. Permasalahan yang kerap timbul, proses belajar mengajar berhenti saat terjadi bencana. Padahal proses pendidikan tidak seharusnya berhenti termasuk kala bencana.

“Meski dalam kondisi evakuasi bencana tapi proses pendidikan tetap berjalan. Hanya saja memang metode yang diterapkan menyesuaikan dengan kondisi kala itu,” jelasnya. (dwi/laz/ong)