GUNUNGKIDUL – Angin kencang kembali melanda Gunungkidul. Bencana tersebut menerjang pemukiman padat penduduk Desa Pampang, Kecamatan Paliyan kemarin.

Rumah milik Samsudin, 60, di Padukuhan Kedungdowo Wetan rusak parah. Tidak ada korban jiwa dalam bencana ini. Kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.

Lantaran kediaman korban ambruk, bersama dengan sang istrinya, Watini, 55, Samsudin kehilangan tempat tinggal. Pasangan suami istri (pasutri) usia lanjut tersebut mengungsi di rumah tetangganya.

Menurut korban, angin kencang berawal dari hujan tidak deras. Mereka berdua hendak mengambil air wudhu untuk salat. Secara mengejutkan muncul embusan angin kencang. “Tiba-tiba, rumah langsung ambruk,” kata Samsudin.

Keduanya hanya saling pandang menyaksikan tempat tinggalnya hancur berantakan. Mereka bersyukur karena terhindar dari maut saat rumah kayu limasan roboh dan tidak menyebabkan luka.

“Sesaat setelah kejadian warga datang melakukan kerja bakti menyingkirkan sisa bangunan rumah,” kata Samsudin.

Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Sutaryono mengaku sudah melakukan ceking lokasi bencana. Reaksi cepat penanganan pasca-bencana dilakukan dengan maksimal.

“Kebanyakan kasus rumah ambruk akibat angin kencang karena kondisi bangunan yang lapuk,” kata Sutaryono.

Seperti dialami keluarga Samsudin, rumahnya ambruk rata tanah dipicu bangunan yang sebagian kayunya lapuk. Ketika ada angin kencang, langsung ambruk.

“Kami juga langsung memberikan bantuan logistik permakanan untuk korban dan warga yang kera bakti,” kata Sutaryono.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Budhi Harjo mengatakan wilayah Gunungkidul yang terdiri dari 144 desa di 18 kecamatan memiliki risiko menjadi sasaran angin kencang.

“Mengantisipasi dampak buruk angin kencang, kami mengimbau masyarakat melakukan pemangkasan pohon yang berdekatan dengan rumah. Banyak kasus terjadi, rumah hancur akibat tertimpa pohon yang diterpa angin kencang,” kata Budhi. (gun/iwa/ong)