SLEMAN – Kenakalan remaja di wilayah Sleman seakan tidak ada habisnya. Meskipun sejumlah pelaku aksi kekerasan dari kalangan pelajar diringkus aparat kepolisian, tampaknya hal itu tidak membuat yang lain jera.

Yang terbaru yakni aksi anarkistis yang dilakukan salah seorang palajar asal Sinduharjo, Ngaglik, BS, 17. Bisa dibilang BS terkena getah atas perbuatannya. Aksi yang dilakukan Sabtu (15/10) malam membuat ia harus berurusan dengan polisi.

Kejadian berawal saat BS bersama beberapa rekannya berada di sebuah jalan di Dusun Bendolole, Sardonoharjo, Ngaglik. Tanpa ada kejelasan, BS bersama temannya melakukan pelemparan terhadap mobil jenis Panther yang saat itu melintas.

Sial bagi BS. Ternyata di dalam mobil yang terkena lemparan itu ada anggota Yonif 403. Dengan sekejap, BS berhasil ditangkap oleh pengemudi kendaraan itu dan diserahkan ke pihak kepolisian.

“Pemilik kendaraan sendiri yang membawa pelaku ke Mapolsek Ngaglik,” jelas Kapolsek Ngaglik Kompol Riyanto kemarin (16/10).

Sementara itu beberapa hari sebelumnya, jajaran Polres Sleman juga membekuk pelaku kekerasan di bawah umur. Tersangka YG, 17, harus mendekam di Mapolres Sleman karena aksi penganiayaan menggunakan senjata tajam terhadap rekan sendiri, Iqbal, di daerah Seturan, Depok, Sleman.

“Motifnya sepele, karena tidak senang korban diajak berkelahi. Ternyata pelaku menggunakan senjata tajam jenis pedang dan melukai wajah korban,” jelas Kapolres Sleman AKBP Burkan Rudy Satria.

Maraknya kasus kekerasan di kalangan pelajar ini menarik perhatian perwira menengah dengan dua melati di pundak ini. Pihaknya melalui jajaran polsek akan terus mengintensifkan sosialisasi dan antisipasi kekerasan oleh remaja.

“Nanti ada jajaran kami bekerjasama dengan SKPD seperti dinas pendidikan untuk melakukan razia, guna menghindari pelajar membawa senjata tajam,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya meminta kepada orang tua untuk benar-benar melakukan pengawasan kepada anak. Komunikasi antarorang tua dan sekolah perlu lebih ditingkatan. Termasuk pengecekan apakah anak benar berangkat dan sampai di sekolah.

Sebab persoalan yang terjadi di masyarakat, anak berpamitan untuk berangkat ke sekolah, namun nyatanya tidak sampai ke sekolah. Selain itu, anak kerap kali membawa senjata tajam yang di larang dan disembunyikan di tempat-tempat tertentu.

“Kalau sudah bertindak kriminal, kami yang akan menindak. Namun ada baiknya orang tua melakukan pengawasan sebelum menyesal nantinya,” jelas Rudy. (bhn/laz/ong)