Psikolog UAD, Elli Nur Hayati. (Foto: Ahmad Riyadi/Radar Jogja Online)
JOGJA – Fenomena ingin kaya dengan cara jalan pintas yaitu menggandakan uang bukan bekerja yang mencuat di tengah masyarakat akhir-akhir ini menarik perhatian Psikolog, Elli Nur Hayati. Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini berpendapat, fenomena Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang dipercaya para pengikutnya dapat menggandakan uang merupakan bukti bahwa sebagian masyarakat Indonesia masih ada yang hidupnya berorientasi pada kebutuhan fisiologis bukan beroritentasi aktualisasi diri.

“Ini membuktikan bahwa masih ada sebagian masyarakat Indonesia yang tidak dapat berpikir kritis dan cenderung pragmatis. Ingin kaya, ingin memiliki banyak harta tapi tidak mau bekerja keras. Mereka lebih memilih jalan pintas dan tidak masuk akal seperti jalur perdukunan yang jauh dari logika dan akal sehat,” kata Elli, Ketua Dewan Pakar Clinik for Community Empowerment (CCE) UAD kepada Radar Jogja Online, kemarin.

Ironisnya, sebagian pengikut Dimas Kanjeng yang mengaku beragama tidak dapat menggunakan keilmuannya untuk berpikir kritis. Akibatnya, mereka mudah dipengaruhi dan kehilangan akal sehatnya.

“Orang indonesia itu mistisnya sangat kuat. Bisa jadi jadi ini karena pengaruh Timur yang menerima agama dengan sentuhan mistis,” kritiknya.

Disisi lain, fenomena Dimas Kanjeng tidak dapat dilepaskan dari kolonial Belanda. Alasannya, kala itu orang Indonesia mudah berkonflik terutama kaitannya dengan SARA. Ditambah lagi, manajemen pemerintahan yang sejak lama kurang baik dan cenderung banyak menggunakan klenik.

Karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut agar tidak terulang, Elli menyarankan kepada pengikut Dimas Kanjeng segera melakukan intropeksi dan berkonsultasi dengan psikolog atau agamawan. Selain itu, pemerintah perlu membuka posko untuk menampung para korban Dimas Kanjeng yang ingin berkonsultasi dan memulihkan akal sehatnya.

“CCE UAD juga siap membantu para korban yang ingin berkonsultasi,” pinta Elli. (ama/hes)