BANTUL – Suasana riang di halaman SLB Negeri 1 Bantul kemarin (14/10) pagi mendadak berubah. Tepat pukul 08.15 puluhan siswa bersama guru serta karyawan yang tengah asyik mengikuti senam pagi tiba-tiba berhamburan ke luar sekolah. Mereka mencari lokasi untuk berlindung di sekitar lapangan saat angin puting beliung melanda. Namun, tak sedikit yang tertahan di tengah lapangan. Hanya berdiam di atas kursi roda. Sembari menunggu bala bantuan datang.

Di salah satu sudut lapangan, beberapa siswa tampak tak berdaya. Wajah mereka penuh dengan darah. Mereka hanya bisa meronta. Beberapa pohon menimpa tubuh siswa berkebutuhan khusus ini.

Kepanikan siswa sedikit mereda setelah Wakil Kepala Sekolah SLB Negeri 1 Bantul Endang Sulistijowati menenangkan para peserta senam pagi.

Dengan memegang alat pengeras suara, perempuan berjilbab ini mengintruksikan seluruh warga sekolah SLB mengevakuasi seluruh siswa yang masih terjebak.

“Ayo teman-temannya diselamatkan,” teriak Endang dari pinggir lapangan.

Guru, karyawan, dan siswa yang selamat langsung kembali lagi ke tengah lapangan. Mengevakuasi beberapa siswa yang masih terjebak. Sebagian ada yang mengevakuasi siswa yang tertimpa reruntuhan batang pepohonan. Satu persatu siswa tuna daksa ini dibawa ke pinggir lapangan untuk segera mendapatkan penanganan medis. “Semuanya didata,” pinta Endang kepada para guru.

Para guru ini diminta mendata dampak bencana ini. Mulai jumlah korban, hingga kerusakan sarana infrastruktur. Hasil inventarisasi pendataan lantas ditulis di secarik kertas dan ditempel di papan informasi.

Suasana mencekam di SLBN 1 Bantul bukanlah kejadian sebenarnya. Itu merupakan gambaran simulasi mitigasi bencana bagi kaum disabilitas.

Kepala Tim Reaksi Cepat BPBD Bantul Rochim menyatakan, simulasi bencana dilakukan menyusul tingginya intensitas hujan dan angin kencang di Bumi Projotamansari selama beberapa hari terakhir. “Kelompok difabel salah satu yang rentan jika terjadi bencana,” jelasnya.

Menurutnya, orangtua, guru, dan karyawan di sekolah harus punya peran masing-masing andai terjadi bencana. Ada yang bertindak sebagai evakuator. Ada pula yang tanggung jawab pendataan. “Data penting untuk pertimbangan dalam assessment,” tuturnya.

Kasi Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan dan Olahraga DIJ Purwadi menilai, dengan simulasi para siswa juga diharapkan melek dengan mitigasi bencana.

“Agar mereka juga bisa menolong rekannya,” ungkapnya.(zam/yog/mg1)