PT ANGKASA PURA I (AP I) menggelontorkan dana sebesar Rp 4,146 triliun untuk proses ganti rugi lahan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo. Itu belum untuk pembangunan fisik dan lain sebagainya. Nominal sebesar itu bahkan tercatat sebagai nilai investasi terbesar dalam sejarah Angkasa Pura I dalam proses pembangunan bandara selama ini.

Proses pengadaan tanah NYIA di Kecamatan Temon, Kulonprogo juga terbilang cukup istimewa. PT AP I juga ikut memikirkan bagaimana dampak sosialnya, hal itu bisa dilihat dari upaya PT AP I bersama Pemkab Kulonprogo dalam menyediakan opsi relokasi bagi warga terdampak. Jadi tidak hanya selesai dengan pemberian uang ganti rugi.

“Bahkan untuk melindungi warga terdampak dari konsumerisme pascapenerimaan uang ganti rugi, kami dengan program CSR ikut melakukan pendampingan warga terdampak dalam menggunakan uang ganti rugi, agar hidupnya lebih sejah teras dari sebelum ada bandara,” jelas General Manager (GM) Bandara Adisutjipto Agus Pandu Purnama, kemarin (14/10).

Dalam proses pendampingan, PT AP I menggandeng Certified Financial Planner (CFP) MM Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta. Tim pendampingan ini tugasnya mendampingi warga. Mereka turun ke lapangan sampai ke rumah-rumah membantu warga yang bingung dalam memprioritaskan uangnya.

“Kami membantu warga dalam memanajemen keuangannya pasca menerima ganti rugi dengan baik,” ucap CFP MM UGM Saiful Bakhry.

Saiful Bakhry menjelaskan, dalam kurun waktu tiga tahun ke depan, tepat saat bandara beroperasi peluang usaha akan terbuka lebar. Tentunya hal ini memberikan peluang bagi warga terdampak yang mampu mengelola uangnya dengan baik pasca menerima uang ganti rugi.

“Kami akan melakukan pendampingan, semisal ada yang mau mendepositokan uangnya, berapa persen sebaiknya didepositokan, berapa yang harus dibelikan tanah, ruko atau usaha lainnya,” jelasnya.

Pendampingan diberikan kepada semua warga terdampak. Namun, diprioritaskan bagi warga yang memilih tetap tinggal dan berkeinginan menginvestasikan uangnya di wilayah Temon (area sekitar bandara nantinya). Tidak sebatas melakukan pendampingan sementara, setelah enam bulan pendampingan, juga akan dilakukan evaluasi.

“Kami akan lihat eksekusi investasi warga terdampak bagaimana. Setahun kemudian kami akan lihat apakah ada manfaatnya pendampingan dilakukan AP I bersama kami, bagaimana kondisi warga terdampak pasca pembangunan bandara, harapan kami semuanya sejahtera,” lanjutnya. (tom/ila/mg2)