BPBD DIJ Bentuk Posko Siaga Bencana Cuaca Ekstrem

JOGJA- Tingginya intensitas curah hujan selama beberapa hari terakhir ini perlu terus diwaspadai. Kesiapsigaan menghadapi setiap potensi bencana harus dilakukan sejak dini. Terutama untuk mengantisipasi dampak tanah longsor dan banjir.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Krido Suprayitno menyatakan, sejumlah wilayah di DIJ, khususnya beberapa kecamatan di Sleman berpotensi mengalami banjir bandang. Bencana itu dipicu oleh gerakan tanah atau longsor. Potensi banjir bandang mengancam tiga lokasi, yakni Kecamatan Turi, Pakem, dan Cangkringan. Sedangkan ancaman longsor mengintai kawasan perbukitan di Kecamatan Prambanan. Menurutnya, potensi gerakan tanah di empat wilayah tersebut termasuk kategori menengah-tinggi.

“Kami sudah melakukan identifikasi sekaligus mitigasi bencana guna mengurangi dampak risikonya,” ujar Krido kemarin (13/10).

Data potensi terjadinya longsor dan banjir banjir itu diperoleh BPBD DIJ dari buku peta wilayah potensi gerakan tanah yang dilansir Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Kami terus berkoordinasi dengan berbagai elemen dan komunitas di masyarakat dalam rangka mengefektifkan upaya mitigasi bencana,” lanjut mantan kepala Kantor Pengendalian Pertanahan Daerah (KPPD) Sleman ini.

Koordinasi itu antara lain diimplementasikan dengan pembentukan Posko Siaga Bencana Akibat Cuaca Ekstrem. Posko tersebut setiap hari memantau perkembangan situasi terjadi potensi bencana di seluruh DIJ. Posko itu menempati salah satu ruangan kantor BPBD DIJ di Jalan Kenari, Kota Jogja.

Selain empat kecamatan di Sleman, potensi gerakan tanah juga mengancam Kulonprogo, Gunungkidul, dan Bantul. Bahkan, di Bantul dua rumah warga terkena longsoran tanah akibat pembanguan talud atau tebing sebuah perumahan yang tidak memenuhi persyaratan pada Kamis (13/10) malam. Tebing tanpa besi dibangun tegak lurus, sehingga tak kuat menghadapi terjangan air hujan yang turun saat itu.

Peristiwa itu terjadi di RT 06 Dusun Ngentak, Bangunjiwo, Kasihan. Didampingi Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD DIJ Dwiarto Setyabudi, Krido melakukan kunjungan ke lokasi.

Longsor serupa juga terjadi di Dusun Mejing Kalirandu, Bangunjiwo. Talud yang baru dibangun warga jebol dan patah akibat terjangan air hujan. Dalam kunjungan di Kalirandu ini, Krido menyerahkan bantuan dua buah terpal.

Terkait perkiraan terjadinya potensi tanah longsor dan banjir di DIJ, Kepala Badan Geologi Ego Syahrial mengingatkan, dalam jangka waktu lama tanah longsor menyebabkan lebih banyak kerugian dibandingkan bencana lain.

Berdasarkan data PVMBG selama kurun waktu 2005-2015 di DIJ tercatat ada 31 kejadian longsor yang mengakibatkan 14 orang tewas.

Menyadari itu, Ego menegaskan pentingnya informasi potensi terjadi gerakan tanah di suatu wilayah. Khususnya saat musim hujan.

Sementara itu, hujan deras disertai angin kencang melanda sepanjang Jalan Samas kemarin. Meski hanya berlangsung sekitar 15 menit, dampak kerusakan yang ditimbulkan cukup besar. Belasan pohon tumbang. Beberapa ada yang menimpa rumah. Bahkan, enam tiang listrik beton milik PLN patah dan ambruk. Beberapa lokasi terdampak angin kencang, di antaranya, Dusun Carikan, Mulyodadi; Tempel, Sidomulyo; dan Tangkilan, Sumbermulyo (Kecamatan Bambanglipuro); Tegalurung, Gilangharjo (Pandak); dan Blantik, Tirtomulyo (Kretek).

“Ada suara petir lalu tiang listrik ambruk,” kata Budi, 39, yang rumahnya tertimpa tiang listrik. Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bantul Anton Victory mengatakan, lembaganya telah meminta bupati agar mengeluarkan status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor. Mulai 12 Oktober 2016 hingga 12 januari 2017. Itu lantaran curah hujan sejak pertengahan September lalu di atas rata-rata. “Untuk antisipasi bencana kami mendirikan 20 posko banjir dan longsor,” katanya.

Terpisah, Plt Kepala Pelaksana BPBD Sleman Kunto Riyadi telah mengantisipasi dampak bencana tanah longsor di wilayah Prambanan. Menyempurnakan program BPBD kala dipimpin Julisetiono Dwi Wasito, saat ini telah dipasang 30 perangkat early warning system (EWS) di 30 titik lokasi yang dianggap paling rawan longsor.

“Ancaman longsor di Prambanan ke selatan memang cukup besar. Struktur tanah di kawasan itu sangat labil. Kondisi itu diperparah dengan terpaan air hujan berintensitas tinggi,” papar Kunto kemarin.

Kunto menjelaskan, sedimen tanah di perbukitan Pramaban rawan longsor karena tersusun dari bebatuan keras dan berukuran besar. Hal itu mempengaruhi kestabilan tanah dalam menerima beban.

BPBD terus meningkatkan kewaspadaan antisipasi bencana dengan melibatkan beragam elemen masyarakat. Mulai tim reaksi cepat (TRC) BPBD Sleman, hingga pusat pengendalian operasi di tingkat kecamatan dan pusat pengedalian pelaksana di tingkat desa. Sinergitas dibangun yang terfokus pada penanganan bencana.

Kendati demikian, Kunto mengimbau warga penghuni kawasan rawan longsor selalu waspada dan bersiaga jika sewaktu-waktu terjadi tanah longsor. Setidaknya, setiap hujan turun mereka harus bersiap. “Beberapa pemukiman warga di Prambanan berada di bawah bukit. Ini yang sangat berbahaya karena longsor tidak bisa diprediksi,” lanjutnya.

Kawasan paling rawan longsor membentang dari Bokoharjo hingga Sumberharjo. Termasuk rumah dome di Nglepen, Sengir. Terlebih sisi timur kawasan relokasi korban gempa 2006 tersebut memiliki sejarah retakan tanah. (kus/zam/dwi/yog/mg1)