KULONPROGO- Pasangan Hasto Wardoyo-Sutedjo dan Zuhadmono Ashari-BRAY Iriani memang belum resmi ditetapkan sebagai calon peserta pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kulonprogo 2017 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat. Namun, nuansa kekuatan dua poros yang bersaing sudah mulai terasa. Pasangan Zuhadmono Ashari-BRAy Iriani Pramastuti mengumpulkan kiai-kiai sepuh Bumi Binangun di Pondok Pesantren Al Maunah, Bojong, Panjatan kemarin (13/10).

Mereka berkumpul di pondok binaan Kyai Suhadi Ishomulhadi. Di antaranya Kiai Khoirudin dari Samigaluh, Kiai Dainuri Noor (Kalibawang), Kiai Muhsinin (Temon), Kiai Marzuki (Kokap), dan Kiai Fatchudin (Kokap). Turut hadir KH Wasiludin dari Temon dan KH Toharudin. Sosok mantan Bupati Kulonprogo Toyo Santoso Dipo yang resmi menjadi anggota Nahdlatul Ulama (NU) bersama dengan Iriani juga tampak di tengah para kiai sepuh.

“Kami sengaja kumpulkan para kiai sepuh untuk mengenalkan calon yang diusung dari PKB,” ucap Ketua DPW PKB DIJ Agus Sulityono.

Anggota DPR RI itu mengklaim, para kiai Nahdliyin (sebutan untuk warga NU) bersepakat mendukung Zuhad-Iriani. Pertemuan ini menjadi momentum untuk menguatkan komitmen tersebut.

Selain sosialiasi kepada para kiai sepuh di lingkungan pondok pesantren, paslon yang diusung Gerindra dan PKB tersebut akan dikenalkan ke seluruh tokoh masyarakat dan agama di 12 Kecamatan se-Kulonprogo. “Banyak kiai yang sebelumnya belum pirso (mengenal). Makanya kami kenalkan agar mereka tahu siapa Zuhad dan Iriani,” lanjut Agus.

Kesempatan bertemu kiai sepuh tak disia-siakan oleh Zuhadmono. Dalam kesempatan itu Zuhadmono meminta doa restu dari para kiai agar meraih sukses saat pilkada. Dia berharap, para kiai berikut santri-santrinya bersedia mendukung. Demi meraih kemenangan dalam bursa pilkada. “Doa restu sekaligus dukungannya. Itu yang kami harapkan,” katanya.

BRAy Iriani Pramastuti menambahkan, dukungan para kiai tak sebatas moral dan spiritual. Tapi juga ilmu, petuah, nasihat, dan arahan mereka.

Menurutnya, keberadaan kiai sangat diperlukan untuk membangun Kulonprogo. “Kami mintai tutur, wuwur dan sembur-nya,” ungkap Iriani.

Sementara itu, Hasto Wardoyo juga kian gencar terjun ke masyarakat. Di waktu senggangnya, Hasto menyempatkan diri menghadiri rencana pembangunan panti Jompo di Temon Wetan, Kecamatan Temon. Saat itu, dia juga menyerahkan 300 paket bantuan bagi anak-anak yatim piatu dan duafa. “Saya yang akan mengawal dan menjadi ketua dalam pembangunan pondok pesantren bagi para jompo di sini,” kata calon bupati petahana ini.

Saat ini sudah ada anggaran dana dari zakat infaq dan sedekah. Total terkumpul Rp 1 miliar. Salah satu donaturnya Ny Sri Ambar Purwanti, salah satu warga terdampak bandara yang menerima uang ganti rugi bandara sekitar Rp 170 miliar.

Dikatakan, Kulonprogo memang memiliki banyak panti dan pondok pesantren untuk anak yatim piatu dan duafa. Tapi belum ada panti untuk orang jompo. Padahal, harapan hidup di Kulonprogo cukup tinggi. Sekitar 75,18 tahun. “Supaya orang tua yang terlantar atau anaknya yang merantau bisa ditampung di panti ini. Hari ini, saya juga menjadi pembicara dalam seminar di UNY. Untuk menyuarakan program Bela Beli Kulonprogo kepada mahasiswa,” ujarnya. (tom/yog/mg1)