INTENSITAS hujan yang makin sering turun di Kota Jogja membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mulai meningkatkan kewaspadaan. Terlebih jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) tahun ini mengalami peningkatan.

Hingga September 2016 tercatat sudah ada 1.285 kasus dengan 11 kematian. Jumlah itu sudah melampaui sepanjang tahun lalu, yang mencapai 943 kasus dengan 11 kematian. “Biasanya, pada akhir tahun kecenderungannya meningkat karena intensitas hujan juga meningkat, ini yang harus diwaspadai,” ujar Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kota Jogja drg Yudiria Amelia, kemarin (13/10).

Data Dinkes Kota Jogja sendiri rata-rata dalam sebulan, terjadi peningkatan hingga 100 kasus baru. Siklus tertinggi sejauh ini terjadi pada Juni dengan 215 kasus baru. “Khusus September saja ada 109 kasus baru, padahal masih ada tiga bulan lagi,” ungkapnya
Menurutnya, peningkatan tidak hanya terjadi di Kota saja, tapi merata di DIJ dan seluruh Indonesia. Kemungkinan, lanjut dia, hal itu terjadi karena sejak Januari hingga bulan ini cuaca cenderung basah.

Sebagai antisipasi, Pemkot Jogja membuat surat edaran terkait antisipasi dengan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Salah satu program yang digalakkan hingga tingkat keluarga adalah adanya juru pemantau jentik (jumantik) di setiap rumah. “Sekarang kami arahkan satu keluarga satu Jumantik,” jelasnya.

Pihaknya turut menyebarkan nyamuk ber-wolbachia. Bakteri wolbachia merupakan sebuah bakteri yang mampu menekan replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk. Sehingga diharapkan dapat menurunkan kemampuan nyamuk untuk menularkan demam berdarah dari satu orang ke orang lain. Terdapat tujuh kelurahan yang bakal disasar ribuan telur nyamuk ber-wolbachia.

Selain DBD, penyakit lain yang patut diwaspadai adalah leptospirosis. Yudiria mengatakan, sejak Januari hingga Agustus 2016 tercatat ada sembilan kasus leptospirosis di Kota Jogja. Tidak ada kasus meninggal.

“Kami tetap meminta masyarakat waspada. Terus melakukan pembersihan lingkungan terutama di bantaran sungai dan pemukiman padat penduduk,” ujarnya.

Ketua Forum Dokter Hewan Kota Jogja Haris Darmawan mengatakan, kekhawatiran tersebut cukup beralasan. Sebab, dari pengamatannya, populasi tikus di Kota Jogja semakin banyak. “Virus leptosfira dari kencing atau kotoran tikus ini bisa terbawa banjir kemana-mana dan masuk ke tubuh manusia,” katanya. (pra/ila/mg1)