Hujan dengan Intensitas Tinggi di Wilayah DIJ
SLEMAN – Hujan dengan intensitas tinggi terjadi selama hampir satu minggu ini. Masyarakat, diimbau mewaspadai dampak yang dapat ditimbulkan akibat intensitas hujan yang tinggi. Bencana seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin berpotensi terjadi di sejumlah titik.

Terlebih, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kondisi ini akan terus berlangsung selama Oktober ini. Koordinator stasiun klimatologi BMKG DIJ Joko Budiono menyebut, intensitas hujan di beberapa kawasan bisa sangat tinggi, mencapai 300-400 mm per bulan. Daerah yang memiliki intensitas hujan cukup tinggi ada di dua kabupaten, Sleman, dan Kulonprogo.

Kawasan Sleman meliputi kecamatan Tempel, Sleman, Turi, Pakem, Ngaglik, Mlati, Seyegan dan Cangkringan. Sementara Kulonprogo intensitas hujan cukup tinggi terjadi di Kalibawang, Temon, Girimulyo, Nanggulan, dan Kokap. “Intensitas hujan lebat juga disertai dengan kilat dan angin kencang,” jelas Joko kepada Radar Jogja, kemarin (13/10).

Intensitas hujan sangat tinggi didorong oleh sejumlah faktor, seperti pasokan uap air yang cukup besar di pesisir Selatan Jawa dan Sumatera. “Selain itu, ada pula belokan di pertemuan angin di Selatan Jawa. Belokan ini memperkuat proses tumbuhnya awan. Belum lagi keberadaan udara dingin yang masuk ke Indonesia,” jelasnya.

Masyarakat, jelasnya, diimbau mewaspadai dampak yang dapat ditimbulkan akibat intensitas hujan yang tinggi. Sementara itu, untuk kondisi di perairan Selatan Laut Jawa potensi gelombang laut setinggi 2,5 meter hingga 4 meter. “Operator jasa laut dan nelayan kami minta waspada,” tandasnya.

674 Hektare Sawah Bantul Dipastikan Gagal Panen
Sementara itu, petani di Bantul harus gigit jari. Sebab, luasan tanaman yang terendam air hujan pada September lalu ternyata cukup signifikan. Dari inventarisasi Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) baru-baru ini diketahui luas tanaman yang dipastikan gagal panen mencapai 674 hektare.

“Sudah kami inventarisasi totalnya,” jelas Plt Kepala Dispertahut Bantul Pulung Haryadi, kemarin (13/10).

Tanaman yang gagal panen ini beragam. Meliputi cabai merah 58 hektare, jagung 256 hektare, bawang merah 25 hektare, dan kedelai 335 hektare. Menurut Pulung, lokasi tanaman ini tersebar di sejumlah kecamatan. Di antaranya, Kasihan, Pundong, Bambanglipuro, Sanden, Kretek, dan Srandakan.

“Tahun lalu yang gagal panen hanya 11 hektare,” ucapnya.

Masifnya gagal panen ini ditengarai majunya musim penghujan. Sementara, saluran afvour maupun saluran irigasi lainnya tidak mampu menampung guyuran air hujan. Sehingga meluap dan menggenangi tanaman di sekitarnya. “Rata-rata kasusnya seperti itu,” ungkapnya.

Berkaca dari kondisi ini, Pulung menegaskan, bakal mengintensifkan koordinasi dengan kelompok perkumpulan petani pemakai air (P3A).

Tujuannya meningkatkan penanganan saluran tersier, seperti afvour. Mengingat, tidak sedikit afvour yang tak berfungsi maksimal. Ada banyak tumpukan sedimen di dalamnya. “Ada yang ditumbuhi rerumputan,” paparnya.

Pulung menambahkan, dispertahut menyerahkan sepenuhnya penanganan saluran primer kepada Pemprov DIJ. Sedangkan untuk saluran sekunder kepada Dinas Sumber Daya Air. “Penanganan sesuai bidangnya masing-masing,” tegasnya

Terkait kerugian yang dialami para petani, Pulung mengaku tidak dapat berbuat banyak. Kendati begitu, pemkab telah mempersiapkan sejumlah program khusus pada 2017. Program-program ini diprioritaskan untuk para petani yang mengalami gagal panen tahun ini. “Seperti program peningkatan produksi pertanian,” bebernya.

Terpisah, Kepala Desa Panjangrejo, Pundong Daru Kisworo menyatakan, para petani membutuhkan upaya nyata dari pemkab. Dengan segera melakukan normalisasi saluran afvour. Mengingat, hingga sekarang belum ada tanda-tanda normalisasi. “Kalau tidak ada normalisasi, ya, pasti kebanjiran terus,” keluhnya.

Pada September lalu, misalnya, ada puluhan hektare tanaman yang terendam air. Menurutnya, sebagian besar petani di Panjangrejo merugi. (bhn/zam/ila/mg1)