Jogja adalah kota yang kaya budaya. Jika wisatawan menyusuri sepanjang Malioboro, ada satu kawasan yang disebut dengan china town, tepatnya di wilayah Ketandan. Di sinilah pekan budaya Tionghoa digelar setiap tahunnya, bertepatan dengan tahun baru imlek.

Tidak jauh dari kawasan China Town, terdapat satu klenteng yang cukup terkenal. Klenteng Bhudda Prabha, berlokasi di Jalan Brigjend Katamso No 3, Yogyakarta. Klenteng ini merupakan bangunan bersejarah yang memiliki nilai penting dalam perkembangan budaya Tionghoa di Yogyakarta.

Berdasarkan fakta sejarahnya, Klenteng Bhudda Prabha bernama asli Hok Tik Bio. Klenteng ini didirikan di atas tanah seluas 1150 m2 hibah dari Kraton Kasultanan Yogyakarta pada pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII, tahun 1900. Klenteng Hok Tik Bio ini banyak dikunjungi oleh mereka yang mencari berkah dan kemakmuran.

Klenteng ini menjelma tidak hanya sebagai tempat beribadah bagi etnis Tionghoa, akan tetapi juga destinasi wisata. Menikmati keindahan arsitektur khas Tionghoa yang didominasi oleh warna merah dan gold, serta melihat aktivitas para umat yang sedang beribadah.

Ketika memasuki klenteng ini, pengunjung akan dihibur oleh beragam keindahan yang terukir di dinding-dinding bangunannya. Ada begitu banyak puja dan doa dipanjatkan di dalam klenteng. Sebuah altar pemujaan bagi Buddha Gautama, Dhyani Bodhisatva Avalokitesvara, Prajnaparamita, dan Maitreya tepat berada di tengahh ruangan.

Jika Anda ingin berkunjung ke klenteng, waktu yang paling tepat adalah saat imlek ataupun cap go meh. Ketika itu, dinamika dan aura hidupnya akan begitu terlihat dari berbagai aktivitas doa yang dilaksanakan oleh para pemeluknya.

Sampai saat ini tidak ada biaya masuk yang dikenakan bagi pengunjung. Pengunjung juga bisa mendapatkan pernak-pernik ataupun souvenir yang memang dijualbelikann di sana.(ong)