Melihat Kesibukan Penyelenggara dan Pengawas Pilkada Serentak 2017 (4-Habis)

Salah satu tantangan dalam penyelenggaraan pemilihan umum, baik legislatif, presiden, dan wali kota di Jogja adalah penyadaran hak politik warga. Hal itu disadari betul oleh Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Jogja Wawan Budianto.
HERU PRATOMO, Jogja
KESADARAN warga Kota Jogja ikut berpartisipasi dalam pemilu, sebenarnya tergolong tinggi jika dibandingkan daerah lain. Sudah lebih dari 50 persen. Tapi, sebenarnya bukan perkara mudah untuk membangun kesadaran warga Jogja untuk berpartisipasi aktif.

Sosialisasi terus digalakkan KPU Kota Jogja. “Sosialisasi tidak hanya terkait teknis seperti cara mencoblos saja. Tapi melangkah lebih dari itu,” ujar Wawan ditemui kemarin.

Yang dimaksud Wawan adalah memberikan pemahamam tentang pentingnya pemilu hingga ajakan supaya tidak golput. Khusus untuk pelaksanaan pilwali, Wawan mengatakan, masih ada pekerjaan rumah (PR) lainnya, yaitu menaikkan tingkat partisipasi warga.

Data KPU Kota Jogja, pada Pileg 2004 lalu partisipasi mencapai 79 persen dan 77 persen pada 2014. Sedang pada Pilwali 2006 hanya 53 persen dan lima tahun lalu 64 persen. “Ini yang masih menjadi tantangan supaya partisipasi pemilih bisa meningkat,” jelasnya.

Menurutnya, partisipasi saat pileg bisa lebih tinggi karena pada saat itu tidak hanya mesin partai politik yang bergerak, juga para kandidat calon legislatif. Tapi, pada saat pilwali, jelas Wawan, dari sisi ketokohan yang ditonjolkan.

Kondisi itu yang membuat KPU Kota Jogja berusaha menyajikan informasi selengkapnya, termasuk terkait pasangan calon supaya warga kota mau memilih. “Data selengkap-lengkapnya yang kami sajikan supaya masyarakat bisa memilih secara rasional,” jelasnya.

Menurutnya, penyajian informasi tidak hanya ketika pasangan calon sudah ditetapkan saja. Sejak awal tahapan pemilihan wali kota (pilwali) sudah disosialisasikan. Termasuk untuk pencalonan calon perorangan. Selain itu, dalam penyelenggaraan kali ini berbeda dari sebelumnya.

Selain diadakan serentak, lanjut Wawan, juga secara regulasi yang berpusat di KPU. “Jika ada persoalan yang belum diatur dalam PKPU, tidak bisa segera direspons, harus konsultasi ke KPU Pusat dulu,” jelasnya.

Hingga saat ini semua tahapan pilwali, jelas pria kelahiran 17 Mei 1975 itu masih on the track. Belum ada kendala berarti yang dihadapi. Jelang masuk tahapan kampanye, diakuinya pekerjaan KPU akan makin meningkat. Tapi, dirinya masih meyakini tidak akan ada persoalan berarti dalam pelaksanaannya. Salah satunya karena karakter warganya yang terdidik.

Wawan yang sudah dua periode menjadi komisioner KPU Kota Jogja itu menambahkan, pihaknya berusaha memberikan informasi yang lengkap. Untuk komunikasi sendiri, sebenarnya bukan hal yang baru bagi Wawan yang alumnus IAIN Sunan Kalijaga jurusan Komunikasi Islam. “Komunikasi itu kan umum, tinggal bagaimana penyampaiannya saja,” ujar warga Prawirodirjan itu.

Hal itu pula yang diterapkannya pada keluarga. Ayah tiga putra itu mengatakan, memasuki tahapan krusial dalam pilwali menjadikan waktunya bersama keluarga makin berkurang. Hal itu disiasati dengan berusaha menjaga komunikasi. Hal lain yang juga akan hilang adalah waktu bermain bersama keluarga.

Sebelumnya pada Sabtu dan Minggu merupakan waktu bersama keluarga. “Tapi, sekarang Sabtu saja. Karena saat Minggu kadang ada rapat juga, tapi keluarga sudah paham apalagi ini periode kedua di KPU,” tuturnya. (ila/mg1)