Korban bencana longsor Purworejo Juni 2016 lalu, sebagian telah mendapatkan rumah relokasi. Berukuran jauh lebih kecil tidak dipermasalahkan, yang penting rasa nyaman dan tenteram bisa dirasakan.

BUDI AGUNG, Purworejo

Dua rumah petak berukuran 6×6 meter di Desa Pacekelan, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, berbeda dibandingkan sebagian besar rumah yang lain. Didirikan di tanah yang lapang, keberadaannya mencolok karena bentuk dan warnanya amat berbeda.

Ya, keduanya adalah rumah baru yang dibangun oleh Pemkab Purworejo untuk korban bencana tanah longsor. Rencananya masih ada beberapa rumah lagi yang akan didirikan di lokasi itu.

Dengan kondisi halaman yang belum mendapat sentuhan, apalgi hujan yang terus mengguyur, menjadikan keadaannya sangat becek. Jangan kaget, jika keluar dari lokasi itu, kita bisa mendapatkan oleh-oleh tanah liat yang menempel di sandal atau sepatu.

Satu di antara dua pemilik rumah adalah Bonyani, 57, warga RT 1 RW 8 desa setempat yang kehilangan istrinya karena terlambat saat berusaha menyelamatkan diri. Hingga kini belum ada serah terima karena menunggu proses pendirian rumah relokasi lain didirikan.

Mendahului yang lain, Bonyani telah menetap di lokasi baru. Ia masih tinggal sendiri karena anak, menantu dan cucunya, masih tinggal di tempat kerabat yang lokasinya tidak jauh dari rumah lama.

“Saya sendirian saja. Eman-eman kalau tidak ditempati, wong sudah jadi kok dibiarkan. Toh sudah ada listrik, untuk kebutuhan air panas ada kompor bantuan,” kata Bonyani kemarin (12/10).

Kebutuhan makanan selama ini dipasok anaknya yang bekerja sebagai buruh bangunan. Setiap pagi, anaknya mengantarkan makanan saat hendak berangkat bekerja.

“Rumah ini perlu ditangani lebih Mas. Lihat saja halamannya becek. Bagian belakang juga ada mata airnya, jadi kalau musim seperti ini harus dibuat saluran, biar tidak menggenang,” tambahnya.

Berada di bawah jalan yang memiliki saluran air, lokasi rumah barunya sempat kebanjiran karena saluran di atasnya meluap. Beruntung kepedulian tetangga menjadikan saluran air kini lancar karena pembuangannya dikelola dengan baik.

Sambil mengisi waktu, bagian belakang rumah yang dilengkapi kamar mandi itu ditambah dengan penutup. Rencananya tempat itu akan ditutup sekelilingnya dan dipergunakan untuk memasak menggunakan kayu bakar.

“Di desa ada luweng (tungku) kan banyak manfaatnya. Selain menghemat juga untuk penghangat,” tambahnya.

Memiliki rumah lagi walau tidak sebesar yang dulu, membuat Bonyani merasa bersyukur. Setidaknya rasa traumatik akibat bencana longsor bisa dihilangkan.

“Tinggal di sini sekarang ini mantep Mas. Kalau tetap tinggal di atas saya sudah tidak berani, apalagi kalau hujan. Hati ini rasanya waswas terus,” katanya.

Yang menjadi pemikirannya sekarang adalah bagaimana menghidupkan kembali mata pencaharian yang tidak dilakoni lagi usai bencana. Selain menggarap sawah dan kebun, Bonyani memiliki sampingan utama membuat arang.

“Belum tahu, sekarang mau membuat arang di mana. Kalau di sekitar sini kok tetangganya rapat sekali, tidak enak. Wong kalau membuat arang itu asapnya juga banyak,” kata Bonyani mengakhiri obrolan.

Kepala Pelaksana BPBD Purworejo Boedi Hardjono mengatakan, pihaknya masih akan memberikan bantuan untuk rumah relokasi di Desa Pacekelan, Purworejo. Wujud bantuan adalah pembuatan jalan rabat untuk mencapai lokasi rumah. “Kami telah siapkan pasir dan semen untuk membangun jalan sederhana,” kata Boedi. (laz)