Kawasan Wisata Ditutup Sementara
SLEMAN – Hujan deras yang terjadi dari sore hingga malam mengakibatkan longsor di kawasan Tlogo Muncar, Kaliurang Sleman. Akibatnya, kawasan wisata Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) ditutup untuk sementara waktu. Jumlah longsoran terpantau lebih dari lima titik dan tersebar di beberapa kawasan.

“Hujan sejak pukul 16.00 hingga malam hari menjadi beban di kawasan puncak bukit. Selasa (11/10) sekitar pukul 20.00 terjadi longsoran. Tindakan baru bisa ditempuh tadi pagi (12/10) mengingat kondisinya yang masih rawan,” jelas Kepala Seksi Wilayah 1 TNGM Nurpana Sulaksono kemarin.

Dijelaskan, untuk ketinggian bukit yang longsor sekitar 900 hingga 1.000 mdpl. Sementara luasan material longsor berkisar antara 50 hingga 100 meter. Selain longsoran tanah, curah hujan juga menyebabkan banjir. Hanya, untuk intensitas banjir tidak besar. Material yang dibawa oleh banjir merupakan sisa erupsi Gunung Merapi 2010.

Nurpana menduga, banjir dan longsor terjadi karena minimnya tumbuhan peresap aliran air. Semenjak erupsi 2010, pohon-pohon di kawasan ini belum optimal pertumbuhannya. Termasuk pohon-pohon yang diharapkan menjadi pengikat tanah dan penyerap air. “Di atas jumlah tumbuhan masih sedikit sehingga ketika hujan, air langsung turun. Untuk banjir terjadi di air terjun Tlogo Muncar. Sementara longsor terjadi di trek Tlogo Muncar yang menuju puncak Pronojiwo,” katanya.

Dari pengamatan timnya, terdeteksi ada empat titik longsor besar. Disamping itu juga ada titik longsoran kecil di sepanjang trek Tlogo Muncar. “Sejarah banjir dan longsor parah di kawasan ini juga pernah terjadi pada 2014 dan 2015,” ungkapnya.

Bedanya, pada 2014 bencana banjir lebih besar. Air bah dari kawasan atas Tlogo Muncar membawa material berupa lumpur dan kayu kering. Tahun ini bencana longsor lebih besar karena menyapu trek menuju puncak Pronojiwo.

“Bahkan pada erupsi 1994 lebih dahysat karena mampu menyapu kolam di bawah. Saat ini kolam tersebut sudah menjadi tempat parkir Tlogo Putri,” ujarnya.

Kemungkinan terjadi longsor susulan masih bisa terjadi. Karena curah hujan tinggi terjadi di puncak Merapi. “Kami menutup kawasan wisata ini untuk sementara waktu demi keamanan,” ujarnya.

 
Pembenahan Trek Pendakian Tidak Bisa Asal-Asalan
Longsor dan banjir di Tlogo Muncar Kaliurang, Sleman berdampak pada wisata di kawasan tersebut. Kepala Resort Pakem Turi TNGM Teguh Wardaya menutup kawasan ini untuk sementara waktu. Agar bisa membersihkan material longsoran dan melakukan perbaikan infrastruktur.

Untuk lamanya penutupan, dia tidak bisa memprediksi secara pasti. Alasannya, beberapa material longsoran masih terlihat di beberapa titik. Bahkan untuk pembersihan tidak bisa dilakukan secara langsung.

“Kalau cuacanya cerah, bisa lancar. Sayangnya sore ini (kemarin) kawasan puncak hujan jadi harus dilanjut besok pagi (hari ini). Padahal masih banyak material tanah, batu, dan pohon yang longsor,” jelasnya.

Disamping itu, pembenahan trek pendakian juga tidak bisa asal-asalan. Langkah penyusunan harus berdasarkan keamanan dan kenyamanan pengunjung. Dengan adanya longsor ini, maka perlu disusun ulang trek yang dinyatakan aman.

Trek baru, lanjut Teguh, sejatinya sudah disusun pasca erupsi Merapi 2010. Bahkan belum lama ini sebuah trek baru saja diselesaikan untuk pendakian ke puncak. Sayangnya, trek baru ini langsung tersapu longsor.

“Belum lama diselesaikan sekitar September, tapi langsung tertutup lagi. Harus mencari rute lagi, jika memungkinan trek lama tetap dipakai. Jika memenuhi syarat keamanan dan kenyamanan pengunjung,” katanya.

Untuk jumlah kunjungan, kawasan Tlogo Putri bisa mencapai 200 hingga 500 pengunjung per harinya. Angka kunjungan ini meningkat drastis saat akhir pekan hingga 1.000 pengunjung. Menurutnya, kawasan Tlogo Putri masih menjadi idola wisata alam.

Terpisah, Koordinator SAR Linmas Kaliurang Kiswanta belum bisa memastikan lamanya pembersihan. Masalahnya material batu besar ditemukan di salah satu titik longsor. Untuk keamanan, batu ini harus diturunkan agar tidak menimpa pengunjung.

“Di bukit sebelah timur ada batu dengan diameter dua meter menempel di bukit. Sangat bahaya dilihat dari diameter batu dan arah luncurannya,” katanya. (dwi/ila/mg1)