JOGJA – Moratorium hotel yang diperpanjang tak hanya dikarenakan tingkat keterisian kamar (okupansi) yang belum mencapai 70 persen. Persoalan lainnya adalah lama tinggal wisatawan atau length of stay (LOS) yang masih minim. Data dari Dinas Pariwisata (Dispar) DIJ pada 2015 LOS di Jogja baru mencapai 2,07 hari untuk wisatawan mancanegara (wisman) dan 1,85 hari untuk wisatawan nusantara (wisnus).

Kepala Dispar DIJ Aris Riyanta mengatakan, meski masih tergolong minim, LOS wisman maupun wisnus sudah meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya karena meningkatnya event wisata di DIJ yang dapat menarik kunjungan wisatawan.

“Untuk menambah LOS akan dioptimalkan penyelenggaraan wisata-wisata minat khusus,” ujar Aris, kemarin (12/10).

Aris mengaku, akan mengatur jadwal penyelenggaraan event wisata dan budaya. Termasuk memanfaatkan teknologi informasi sebagai media penyebaran informasi. Menurut dia, event pariwisata dan budaya yang bertambah belum diikuti dengan penyusunan paket wisata yang baik.

Selain itu, travel agent juga masih menawarkan destinasi dan event konvensional. “Belum menyertakan paket wisata yang berisi destinasi dan event di wisata baru,” terangnya.

Aris juga mengakui permintaan wisatawan yang akan datang ke DIJ belum teridentifikasi dengan baik. Sehingga, lanjutnya, dinas belum mampu mengetahui minat yang diinginkan wisatawan yang datang ke DIJ. Persoalan lain, ungkap Aris, terkait dengan infrastruktur. Dia menyebut persoalan klasik, yakni kapasitas bandara dan belum tersedianya transportasi umum yang mengantarkan hingga ke tujuan wisata. “Persebaran (wisatawan) masih di sekitar kota, karena tidak ada yang baru makanya sulit untuk meningkatkan lama tinggal,” jelasnya.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD DIJ Nur Sasmito juga mengkritisi Pemprov DIJ yang pembangunannya masih fokus di seputar Malioboro, Keraton dan arah ke Borobudur. Padahal objek wisata baru di Gunungkidul maupun Kulonprogo tidak kalah menarik. Tapi, sayangnya, akses jalan ke sana yang masih terbatas. “Jalan provinsi, tapi masih sempit dan berlubang,” ungkapnya.

Politikus PKS itu mencontohkan, seperti akses jalan ke kawasan wisata kuliner sate klatak di Jejeran, Bantul. Kondisi Jalan Imogiri Timur, yang merupakan jalur menuju ke sate klatak, masih sempit. Ketika dilewati bus wisata saja, jelas Nur, akan terjadi kemacetan.

“Masyarakat sudah welcome, tinggal kapan dibangun jalan yang lebih besar, paling tidak bisa dua jalur,” ujarnya.

Sama dengan Aris, politikus asal Kulonprogo itu menyebut LOS yang masih rendah karena belum banyaknya pilihan wisata. “Masih itu-itu saja,” ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Istidjab M. Danunegoro mengatakan, rendahnya LOS karena masih minimnya hiburan malam di DIJ. Yang ditawarkan selama ini biasanya adalah sendratari Ramayana.

Istidjab mencontohkan, pihaknya masih kesulitan meyakinkan wisatawan asal Bali untuk menginap di Jogja. Begitu tiba di Jogja pagi hari, sudah bisa langsung berwisata sekaligus berbelanja keliling Jogja. “Begitu selesai langsung pulang, lha gimana kami memang tidak punya apa-apa untuk ditawarkan untuk wisata malam,” terangnya. (pra/ila/mg1)