JIBB 2016 Bawa Konsep Edukasi

JOGJA – Penetapan Jogjakarta sebagai kota batik dunia harus membawa dampak langsung bagi perkembangan batik lokal. Sebagai sebuah identitas, batik Jogja seharusnya bisa menjadi tren mode masa kini yang mampu menjadi sumber inspirasi busana dunia.

Hal itu disampaikan Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X saat pembukaan Jogja Internasional Batik Biennale (JIBB) di Jogja Expo Center (JEC), kemarin (12/10).

HB X menjelaskan, ada riset yang menjelaskan tren fesyen masa kini berakar pada traditional revolution. Itu merupakan modal kuat untuk mengangkat batik Jogja melewati batas. “JIBB 2016 jangan hanya selebrasi Jogjakarta Kota Batik Dunia oleh World Craft Council. Hendaknya juga dijadikan check and re-check komitmen masyarakat batik,” ujar HB X.

Sebagai representasi Budaya Warisan Manusia oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009, batik bisa dikembangkan dengan banyak cara untuk mengaktualkan sentuhan etnik pada gaya busana. Seperti dengan materi bahan, corak, modifikasi busana tradisional, hingga variasi potongan yang mengkolaborasikan kekhasan etnik dan modern.

“Bila diamati lebih jeli, para perancang dari berbagai penjuru benua menggunakan warna etnik sebagai menjadi sumber energi yang tak pernah habis,” tandasnya.

Tema yang diangkat dalam JIBB 2016, Traditions for Innovations, seharusnya bisa berkembang lebih jauh. Tak sekadar tema, tapi juga arah untuk membawa batik menjadi imajinasi dunia. Peluang batik menerobos fashion style dunia, kata HB X, sangat besar. Apalagi, batik memiliki nilai unik, otentik, bahkan orisinal.

“Bisa dibayangkan hadirnya desain batik yang menampilkan perpaduan tren mode masa kini dengan sentuhan desain yang unik dan khas lokal yang sederhana, lembut, minimalis, ringan, membumi dan alami serta diminati pasar,” jelasnya.

Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Mufidah Jusuf Kalla menyampaikan apresiasi pada penyelenggaraan event JIBB 2016. Menurutnya, kegiatan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat pegiat batik ini sekaligus menegaskan predikat Jogjakarta sebagai Kota Batik Dunia.

“Menurut saya sangat bagus, pegiat batik bisa ikut serta menampilkan karyanya. Saya berharap masyarakat semakin dekat dengan batik dan mencintai batik,” terangnya.

Istri Wakil Presiden Jusuf Kalla ini menjelaskan, selain motif dan corak, proses pembuatan batik tulis yang begitu panjang dan lama menjadi salah satu faktor kain asli Indonesia ini memiliki harga tinggi. “Untuk itu JIBB kali ini membawa konsep edukasi. Beragam kegiatan turut digelar mulai dari pameran, workshop, simposium, kunjungan seni, hingga fashion show,” jelasnya.

JIBB 2016 sendiri diselenggarakan mulai 12-16 Oktober 2016. Rencananya, JIBB ini dilaksanakan secara berkesinambungan setiap dua tahun sekali. “Event ini sebenarnya wujud perayaan dari Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober, sekaligus dinobatkannya Jogjakarta sebagai Kota Batik Dunia oleh UNESCO pada 12 Oktober 2014 silam,” ucapnya.

Mufidah menambahkan, ada tujuh kriteria mengapa Jogjakarta terpilih sebagai kota batik dunia. Di antaranya memiliki nilai sejarah, budaya, dan memiliki alih generasi dalam perkembangan ekonomi yang terus tumbuh. Juga memiliki kepedulian lingkungan, serta memiliki komitmen yang berkesinambungan.

Dia menegaskan, kreasi dan inovasi baru dari kain batik memiliki makna mendalam menceritakan siklus hidup manusia. “Para pembatik bisa mengajarkan pada pembatik muda yang nantinya bisa menularkan pada generasi-generasi selanjutnya,” katanya. (sce/eri/met/ila/mg1)