Seorang Pelaku Masih Kepala Desa Aktif

SLEMAN – Jajaran Reskrim Polsek Ngaglik menangkap tiga pelaku pembobol Aisa Mart di Dusun Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman. Yang mengejutkan, salah seorang pelakunya diketahui masih menjabat kepala desa aktif Wirogaten, Mirit, Kebumen, Jawa Tengah.

Kasus ini terungkapnya dari dibekuknya otak pelaku pencurian, Haryadi alias Cipluk warga Juminahan, Tegal Panggung, Dunurejan.

Dari penyidikan, perbuatan pelaku membobol toko itu dibantu oleh dua orang rekannya, sang kepala desa, Muhadis,38 serta warga Kebumen lain, Puji Priyanto. Kedua pelaku asal Kebumen, ditangkap di kediaman masing-masing di Dusun Wirogaten.

Muhadis menyebut aksi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Padahal, selama tiga tahun menjabat sebagai kepala desa, berbagai fasilitas didapatkan seperti gaji di atas satu juta serta tanah bengkok seluas 5 hektar. “Uang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Muhadis lirih dihadapan Kapolsek Ngaglik Kompol Riyanto kemarin (11/10).

Sementara Riyanto menyebut, Muhidis merupakan residivis atas kasus pencurian di wilayah Kebumen. Atas perbuatannya, pelaku menjalani hukuman selama 4 bulan.Ternyata selama menjalani masa penahanan di Polres Kebumen, Muhidis bertemu dengan Cipluk. Dari pertemuan inilah komunikasi terus berlanjut hingga hingga menjalankan aksi pencurian di wilayah Sleman.

Pejabat polisi dengan melati satu di pundak itu menjelaskan, ketiganya sudah merencanakan aksi pencurian di wilayah Sleman. Bahkan, Cipluk yang merupakan warga Jogja ini sempat nge-kost di kawasan Drono, Ngaglik, Sleman. “Sebelum menjalankan aksi, Cipluk melakukan survei tiga kali untuk melakukan pemetaan,” terangnya.

Setelah melakukan survei, kedua pelaku lain asal Kebumen datang. Ketiganya menjalankan aksi sekitar pukul 01.00 WIB dini hari dengan sebuah mobil. “Modus operandi membobol tembok belakang dengan menggunakan linggis dan obeng,” jelas Riyanto.

Setelah berhasil masuk ke dalam ruangan, pelaku eksekusi Cipluk, mematikan CCTV yang terpasang dalam bangunan. Dari toko itu, ketiganya menguras uang tunai sejumlah Rp 11 juta tiga buah monitor berbagai ukuran serta sebuah handphone.

Dari tangan ketiganya, jajaran kepolisian mengamankan tiga buah monitor di kediaman Cipluk beserta sebuah mobil Suzuki Aerio. Sementara uang Rp 11 juta yang digondol sudah habis digunakan. “Cipluk menerima Rp 3,5 dua rekannya masing-masing Rp 1,5 juta. Sisanya digunakan untuk jajan,” jelasnya.

Kini ketiganya meringkuk di ruang tahanan Mapolsek Ngaglik. Mereka terancam pasal 363 KUHP pencurian dengan pemberatan dengan hukuman penjara maksimal 5 tahun.(bhn/din/mg1)