Bahan Bakar untuk Kereta Api Diganti LNG

JOGJA-Penggunaan bahan bakar gas Liquefied Natural Gas (LNG) untuk kereta api (KA) diklaim lebih hemat dan efisiem dibandingkan penggunaan bahan bakar minyak. Selama ini KA menggunakan BBM jenis bio solar

“Dengan LNG ini lebih irit 80 persen. Perbandingannya 1:2. Satu liter LNG sama dengan dua liter bio solar,” ujar Executive Vice President Balai Yasa Jogja Eko Purwanto di sela uji coba penggunaan LNG sebagai bahan bakar KA di Balai Yasa kemarin (11/10). Dicontohkan, penggunaan 500 liter LNG bisa untuk melayani tiga trip perjalanan Jogja-Surabaya-Jogja. Selama ini KA kapasitas tangki bio solar tiap KA sekitar 300-400 liter dan harus diisi ketika sampai di tujuan.

Selama uji coba, pemakaian LNG lebih efisien dan berdampak pada kinerja mesin yang lebih bagus. Konversi BBM ke LNG juga akan berpengaruh pada pemeliharaan. Jika hasil dari uji coba ini berhasil baik, pihakya berharap nantinya semua KA bisa dikonversi ke LNG. “Untuk KA sama, hanya bahan bakarnya saja yang diganti dengan tabung LNG,” jelasnya.

Vice President LNG PT Pertamina Persero Didik Sasongko mengatakan, uji coba penggunaan LNG sebagai bahan bakar KA, merupakan hasil kerja sama dengan PT KAI dan merupakan yang pertama di Asia. Sinergi tersebut merupakan kelanjutan dari kesepakatan 28 Agustus 2015 lalu, salah satunya konversi penggunaan High Speed Diesel (HSD) ke LNG. “Pengunaan LNG ini juga lebih ramah lingkungan,” jelasnya.

Jika benar-benar dilaksanakan, Pertamina siap mendukung dengan menyediakan titik-titik pengisian LNG. Untuk LNG didatangkan dari Bontang. “Uji coba saat ini kereta pembangkit dulu. Kalau sudah oeprasional nanti juga termasuk lokomotif,” terangnya.

Kepala Badan Pengembangan Litbang ESDM Kementrian ESDM FX Sutyastoto menambahkan pengalihan ke LNG juga sejalan dengan kebijakan energi nasional, yang menargetkan pada 2025 penggunaan BBM di Indonesia hanya 20 persen saja. Beberapa sektor, mulai dari industri, pembangkit dan rumah tangga sudah mulai mengurangi penggunaan minyak.

Tapi untuk sektor tarnsportasi penggunaan minyak masih sekitar 73 persen. “Sebelumnya sudah ada inisiatif penggunaan LNG di truk tambang dan berhasil. Di KA ini optimistis juga akan berhasil,” tegasnya. (pra/din/mg1)