SLEMAN – Potensi botani di Sleman sangat melimpah, terutama di sekitar lereng Gunung Merapi. Salah satu yang sangat terkenal adalah keragaman tanaman anggrek yang tumbuh liar di hutan Merapi.

Sayangnya, seiring waktu berjalan jumlah spesies anggrek hutan di Merapi menurun. Tepatnya saat terjadi erupsi pada 2010 lalu. Ragam spesies yang awalnya mencapai 70 jenis, saat ini tinggal 50 spesies anggrek.

“Dari pantauan kami, habitat alami anggrek di Merapi mulai menipis. Selain populasinya yang berkurang, dari spesies juga berkurang drastis. Ini menjadi kekhawatiran tersendiri karena merupakan tanaman khas,” kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Edy Sutyarto, kemarin (11/10).

Edy menjelaskan, dari seluruh kawasan lereng Merapi, lereng selatan relatif aman. Artinya untuk pengembangbiakan alami maupun buatan bisa dilakukan. Tetapi memang ada kendala, yakni kondisi alam dimana erupsi yang tak bisa diprediksi tetap menjadi ancaman.

Langkah lain yang ditempuh TNGM adalah program adopsi anggrek. Program yang sudah berjalan sejak 2015 ini melibatkan masyarakat secara aktif. Keterlibatan ini diawali dari penanaman, menjaga, dan mengembangbiakan.

Untuk program adopsi anggrek, lanjutnya, diimplementasikan untuk enam spesies. Di antaranya Vanda Tricolor, Eria Hyactintoides, Dendrogium Mutabile, Eria Oblittecyta, Pholidota Vertricora, dan Macropodhantis Tesmarnii. “Dengan program ini, besar harapan populasi anggrek Merapi normal kembali,” ujarnya.

Ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Endang Semiarti mengatakan, anggrek Merapi dapat menjadi daya tarik. Menurutnya, setiap daerah memiliki potensi tanaman anggrek. Satu spesies anggrek tidak sama dengan daerah lainnya.

Jenis yang paling dicari adalah Vanda Tricolor Merapi. Jenis anggrek ini tergolong dalam anggrek hutan. Sesuai dengan namanya, jenis anggrek ini memiliki tiga warna khas. Selain itu wewangian dari tanaman ini berbeda dengan anggrek-anggrek lainnya.

“Jenis ini menjadi perburuan para kolektor dan bisa ditemukan di lereng Merapi. Kelopak bunganya kecil, tapi totol-totolnya sangat indah. Bahkan keindahan totol dan wangi menentukan harga setiap pohonnya,” jelasnya.

Upaya pelestarian juga dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman. Sebuah agenda festival anggrek digelar 15 dan 16 Oktober mendatang. Bertajuk Festival Vanda Tricolor Var Suarvis. Kegiatan ini bertempat di Taman Anggrek Titi Orchid Pakem, Sleman. (dwi/ila/mg2)