Mengandalkan hidup dari berjualan kayu bakar, hasil yang diperoleh Tumiran, 75, tidak seberapa. Tinggal di rumah yang seadanya dijalaninya dengan senang hati, tawaran tetangga untuk tinggal bersama, diabaikan.

BUDI AGUNG, Purworejo

Tiga kali dalam seminggu, setidaknya Tumiran, warga Dusun Tengahan, Kaliharjo, Kaligesing, Purworejo, harus menempuh perjalanan 9 kilometer menuju kota, atau berarti 18 Km pulang pergi. Memanggul kayu bakar dan menunggu pembeli, setia dijalaninya sejak puluhan tahun lalu.

Jika sedang beruntung, separuh perjalanannya telah dihentikan seseorang untuk membeli kayunya. Kalau sedang apes, ia harus menunggu hingga pagi sampai ada orang yang membeli kayunya.

Dalam setiap penjualan hanya Rp 15.000 saja yang berhasil
dikantongi. Terbiasa hidup prihatin, tidak membuat himpitan ekonomi itu menjadikannya susah. Sebaliknya, dia masih bisa menyenangkan dirinya dengan berdandan rapi di sore hari saat tidak membawa kayu bakar. Hanya sekadar menikmati sore dan melihat lalu lalang orang.

Dari sekian puluh tahun hidupnya, Tumiran memilih tinggal sendiri tanpa pendamping. Praktis selepas orang tuanya meninggal ia menunggui rumah peninggalan orang tua. Dengan pendapatan yang pas-pasan, Tumiran pun tidak kuat untuk memikirkan kelayakan tempat tinggalnya. Gerogotan rayap dibiarkan dan dijadikan teman mengisi hidup.

Angger iseh iso nggo ngiyup ora popo (asal masih bisa untuk berteduh tidak masalah, Red),” kata Tumiran. Sebagai pribadi yang tidak neko-neko, Tumiran memang selalu mendapat
tempat dalam kehidupan lingkungannya. Setiap pemberian orang diterimanya, bukan karena dirinya membutuhkan, namun sebagai bentuk penghormatan.

Begitu juga saat tetangganya di RT 1 RW 3 Desa Kaliharjo berniat membuatkan lagi rumah kecil untuk tempat tinggalnya. Ia menerima dengan senang hati.

“Mbah Tumiran itu hidup sendiri, sudah sepantasnya kita membantunya,” kata Ketua RT 1 RW 3 Suyanto saat melakukan perbaikan rumah kemarin (10/10).

Dikatakan, Tumiran mendapat bantuan berupa asbes dari sebuah lembaga kemanusiaan. Bantuan itu disikapi warga dengan memberikan tenaga untuk mendirikan rumah baru. “Ada biaya sedikit ditanggung keluarganya. Sementara seluruh tenaga dari warga sekitarnya,” imbuh Suyanto.

Adanya rumah yang relatif layak itu diharapkan akan membuat Tumiran lebih nyaman. “Saat ini memang masih belum sempurna. Tapi lumayan untuk ditinggali daripada yang lama,” katanya. (laz/mg2)