KULONPROGO – Ternyata Kulonprogo memiliki olahraga tradisional bernama Nglabrak. Jangan salah, Nglabrak berhasil menjadi Penampil Terbaik I dalam The Association For International Sport for All (Tafisa) World Games 2016.

Nglabrak singkatan dari Nglarak Blarak (menyeret dahan kelapa sambil berlari). Olahraga ini karya Joko Mursito. Terinspirasi aktivitas pemuda penderes nira kelapa di Bukit Menoreh saat melepas penat. Nglabrak juga menjadi juara dalam Festival Olahraga Tradsisional Tingkat Nasional 2014.

Tahun ini, Nglabrak didaulat mewakili Indonesia di ajang Tafisa World Games 2016 pada Jumat-Senin (7-10/10) di Jakarta. Diikuti 118 negara dengan 12.000 atlet.

Nglabrak dimainkan 12 orang dibagi dua tim. Setiap tim tiga orang perempuan dan tiga pria. Lapangan yang digunakan 12×12 meter dengan permainan searah jarum jam.

Ada wasit, asisten wasit, pencatat skor dan pelatih. Uniknya, olahraga ini diiringi musik tradisional seperti bonang, gong, gender dan kendang.

“Di situlah nuansa tradisi dan seni kerakyatan makin terasa,” kata Joko Mursito, koordinator Nglabrak yang juga Sekretaris Dinas Kebudayaan Kulonprogo kemarin.

Sebelum berangkat ke Jakarta tim dikarantina beberapa hari. “Selain melatih kekompakan, karantina sebagai fase melatih fisik pemain,” jelas Joko.

Menurut dia, Nglabrak harus bersaing dengan kesenian khas Gorontalo dan Jawa Timur. Selain itu juga ada pesaing kuat dari Myanmar, Korea dan Portugal.

“Saat tampil banyak wisatawan yang nonton. Maka para pemain harus siap mental,” kata Joko.

Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Disparpora Kulonprogo Budi Hartono mengatakan Nglabrak kombinasi sempurna pendidikan, prestasi, dan rekreasi. ‘’Saya harap nanti bisa disebarluaskan ke masyarakat luas,” kata Budi.

Salah satu penarik blarak, Yulianto, mengungkapkan kelompok adalah modal utama memainkan Nglabrak. “Kami latihan rutin seminggu tiga kali,” ungkapnya usai gladi kotor di Dolan Deso, Kalibawang belum lama ini. (tom/iwa/mg2)