JOGJA – Sepekan jelang dilaksanakannya kongres PSSI, 17 Oktober mendatang, masalah tempat pelaksanaan masih terjadi perdebatan. PSSI sebelumnya melalui rapat Exco menunjuk Makassar sebagai tempat kongres. Sementara pemerintah melalui Menpora Imam Nahrawi merekomendasikan digelar di Jogjakarta.

Polda Sulawesi Selatan menyebutkan bahwa izin kongres telah turun, namun tidak digelar di Makassar melainkan di Jogjakarta. Hal itu diungkapkan Humas Polda Sulsel Komisaris Besar Polisi Frans Barung. Namun saat ditanyakan ke Polda DIJ, Humas Polda DIJ Kombes Pol Anny Pudjiastuti mengaku belum mengetahui surat izin tersebut. “Sebentar kami cek dulu, saya baru pulang dari luar kota,” katanya kepada Radar Jogja.

Hal yang sama juga dilontarkan Karo Ops Polda DIJ Kombes Pol Bambang Pristiwanto. Kemarin (10/10) dia mengaku masih bertugas bersama Kapolda DIJ untuk mendampingi Presiden Joko Widodo di Jogjakarta. ” Mungkin besok kami informasikan,” ungkapnya.

Sekretaris Asprov PSSI DIJ Dwi Irianto mengatakan, waktu persiapan semakin hari semakin mepet. Namun jika memang dipercaya sebagai panitia lokal pihaknya akan bekerja keras semaksimal mungkin agar hajatan tersebut terlaksana dengan lancar.

Namun sayangnya, hingga kemarin belum ada pemberitahuan resmi dari PSSI kepada asprov untuk mempersiapkan arena kongres. “Sampai saat ini belum ada perubahan undangan, suratnya (tempat kongres) masih di Makasar. Sebagai voter dimanapun akan datang, asalkan ada izin dari polisi,” katanya.

Ia mengharapkan, baik PSSI dan Menpora segera berembuk dan duduk bersama memutuskan venue kongres. Menurutnya bisa PSSI yang beraudiensi dengan Menpora, atau Menpora yang memanggil PSSI untuk menghadap. Sebab jika sampai tanggal 17 mendatang urung digelar kongres, menurutnya persepakbolaan nasional bisa kembali suram. “Kami tidak mau lagi yang seperti itu. Sudah trauma. Jangan sampai sepeti dulu ada kongres di Kalteng dan Ancol,” imbuhnya.

Permasalahan tempat kongres yang berbeda, menurut pria yang biasa disapa Mbah Putih itu, karena belum adanya persamaan pendapat diantara keduanya. Bukan karena masalah kekurangan dan kelebihan Kota Makassar atau Jogja dalam fasilitas penyelenggaraan kongres. “Kami berharap segera ada titik temu. Jangan sampai FIFA dan AFC menilai adanya intervensi sehingga kita dibekukan lagi. Kalau terjadi itu lagi, ya wassalam,” tandasnya. (riz/din/mg2)