Sebagian perempuan punya hobi belanja. Tak hanya menyambangi mal dan supermarket saja, sampai keliling pasar tradisional pun tak jadi soal. Nah, hasrat belanja yang tak dapat dibendung ini bisa jadi bumerang.

AGAR hal itu tak terjadi, Erminahara, 27, sudah menyiapkan bujet khusus untuk hobi belanjanya. Ditanya berapa banyak pengeluaran dalam sebulan untuk memenuhi hobi belanjanya? Ermi, sapaannya, mengaku tidak terlalu mengeluarkan banyak uang. “Masih relative,” ungkapnya.

Ermi menuturkan, dia memang lebih sering belanja untuk kebutuhan tersier yang berhubungan dengan fesyen. Seperti tas dan sepatu. Barang-barang yang dibeli rata-rata memang branded. Alasannya, jauh lebih awet sebagai investasi fesyen.

Nah, untuk barang branded memang harganya jauh lebih mahal. Untuk menyiasati ketergantungan belanja barang-barang bermerek tersebut, Ermi memang menyiapkan bujet khusus dalam sebulan.

Sebagian penghasilannya dia sisihkan untuk keperluan yang lain di kemudian hari. Secara pengaturan finansial, Ermi mengatakan, sudah menerapkannya dengan cukup baik selama ini. “Jangan sampai hobi belanja ini bikin kantongnya tipis di akhir bulan,” ungkap perempuan yang berprofesi sebagai public relations ini.

Kadang Ermi berkeinginan membeli barang yang sedikit lebih mahal. Jika uangnya tak cukup, dia lebih semangat untuk mencari dana tambahan. Caranya, dengan mengambil job lain di luar pekerjaannya. Misalnya, dengan bekerja sebagai model. “Modeling merupakan pekerjaan sampingan selama ini. Kadang saya ambil lebih banyak job,” tandasnya.

Ermi mengaku hobi belanjanya ini sudah muncul sejak remaja. Berawal dari kecintaannya dengan fashion dan didukung oleh orang tua yang mempunyai selera fesyen yang tinggi, terutama ayahnya. “Waktu kecil sering beli aksesori fesyen, akhirnya jadi kebiasaan sampai sekarang,” ungkapnya.

Untuk paramenter tren fesyen, Ermi memilih gaya busana dari Korea. Ermi juga sering berkreasi sendiri, perpaduan busana yang membuatnya lebih cocok dan nyaman. Berbeda dengan perempuan kebanyakan yang mengincar barang diskon, Ermi mengaku bukan tipe perempuan yang hunting barang diskon. “Lebih mendahulukan kebutuhan karena memang butuh barang itu, bukan membeli karena diskon,” selorohnya.

Disamping itu, untuk pengeluaran lain seperti make-up dan perawatan badan, Ermi mengaku tidak pernah melakukan perawatan khusus. “Kalau lagi kelelahan, biasanya ke spa untuk sekadar lulur dan facial. Itu pun tidak sering,” ungkapnya. (cr1/ila/mg2)