On the Origin of Fear Karya Bayu Prihantoro Filemon
Setelah sukses diputar di Venice International Film Festival ke-73 di Italia September lalu. Film On the Origin of Fear karya sutradara asal Magelang Bayu Prihantoro Filemon kembali unjuk gigi dalam ajang bergengsi lainnya, Bussan International Film Festival (BIFF) ke-21 di Bussan, Korea Selatan.
ADI DAYA PERDANA, Magelang
SANG sutradara Bayu Prihantoro Filemon mengaku bangga karyanya dapat bersaing di ajang bertaraf internasional. Warga Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang ini menilai, BIFF merupakan acara yang bergengsi di kalangan para sineas.

“BIFF juga yang membesarkan saya lewat program Asian Film Academy pada 2009 silam. Saya bangga sekali bisa pulang kembali ke sini dan mempresentasikan film-film saya,” kata Bayu saat dihubungi, kemarin (9/10).

Dalam ajang BIFF yang diadakan 6 hingga 15 Oktober ini, Bayu membawa tiga film. Yaitu film pendek On the Origin of Fear yang dia tulis dan sutradarai. Lalu ada dua film lainnya yang tak kalah menarik. Yaitu satu film panjang dengan judul Istirahatlah Kata-Kata (Solo, Solitude) dan satu lagi film pedek berjudul Memoria. “Dalam dua film itu, saya bekerja sebagai penata sinematografi,” jelas putra sulung dari pasangan Marjinungroho dan Fernanda Supiah ini.

Bayu berangkat bersama dengan film maker Indonesia yang filmnya masuk ke BIFF. Mereka diberangkatkan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Selain itu, rombongan Indonesia juga membuka booth Indonesian Cinema di Asian Film Market yakni platform market dan industri di BIFF.

“Festival ini membuka peluang bagi film maker untuk bertemu dengan lebih banyak penonton Asia dan internasional,” tuturnya.

Acara BIFF ini akan menayangkan 302 film dari 75 negara di dunia. Dengan jumlah total hadirin mencapai sekitar 227.377 penonton. Dari Indonesia, terpilih lima film yang ikut tampil di ajang BIFF tersebut. Termasuk film karya Bayu.

“Dengan terpilihnya film dari Indonesia serta puluhan film-film lain dari kawasan Asia Tenggara di BIFF 2016, saya pikir ini menjadi pertanda yang sangat baik. Sinema Indonesia pada khususnya, serta sinema Asia Tenggara umumnya, semakin bisa diterima oleh publik internasional,” ungkap pria yang lahir pada 21 Maret 1985 itu.

Dalam partisipasinya di BIFF, Indonesia mengusung nama “Indonesian Cinema”. Adapun film yang ikut tampil di ajang BIFF 2016 adalah Memoria karya sutradara Kamila Andinisari, berkompetisi di section Wide Angle, Nyai (A Woman From Java) sutradara Garin Nugroho, diputar dalam section A Window on Asian Cinema, On the Origin of Fear karya sutradara Bayu Prihantoro Filemon diputar dalam section Wide Angle).

Kemudian film Istirahatlah Kata-Kata (Solo, Solitude) karya sutradara Yosep Anggi Noen yang diputar dalam section A Window on Asian Cinema, Athirah (Emma’) karya sutradara Riri Riza yang diputar dalam section A Window on Asian Cinema. Beberapa film Indonesia yang terpilih untuk berlaga di ajang BIFF 2016 ini juga sudah diputar di beberapa festival film internasional lainnya. (ila/mg1)