Tradisi Kirab Budaya Tujuh Suro di Gamping

SLEMAN- Masyarakat Banyuraden, Gamping, Sleman kembali menggelar tradisi budaya suran Mbah Demang, Sabtu (8/10) malam. Tradisi ini memang sedikit berbeda dengan kebiasaan menyambut datangnya bulan Suro (penanggalan Jawa), yang pada umumnya digelar pada malam tanggal satu. Suran di Banyuraden digelar pada tanggal tujuh. Ini tak lepas dari sejarah perjalanan Ki Demang Cokrodikromo, yang ketika mudanya bernama Asrah.

Pemangku adat Ki Murdiyanto menuturkan, sejarah Desa Banyuraden berawal pada sebuah cerita dari sosok bernama Mbah Demang Dawangan.

Suatu saat, Mbah Demang menyuruh seorang remaja bernama Asrah bertapa selama sebulan penuh. Itu sebagai bentuk laku prihatin bagi Asrah untuk menghilangkan sifat nakalnya. Nah, dalam laku prihatin itu, Asrah bertemu dengan figur-figur bijak yang mengajarinya tentang kesejatian hidup. Asrah juga diberi kitab ilmu. Usai bertapa, seiring berjalannya waktu Asrah tumbuh menjelma menjadi seorang yang sakti. Dia lantas dipercaya memberantas kejahatan dan diangkat menjadi mandor di perkebunan tebu. Selanjutnya naik pangkat menjadi demang pabrik gula di daerah Demak Ijo, Gamping. Dari situ Asrah berganti nama menjadi Demang Cokrodikromo. “Sampai sekarang diperingati dengan kirab budaya suran Mbah Demang,” jelas Murdiyanto.

Adapun, kirab melibatkan 18 bregada dari seluruh padukuhan se Kecamatan Gamping. Turut dikirab aneka gunungan hasil bumi. Bupati Sri Purnomo beserta istri tampak hadir di acara yang dipusatkan di Lapangan Balai Desa Banyuraden tersebut.

Kirab budaya cukup mengundang perhatian warga, sehingga rela begadang untuk sekadar menyaksikan prosesi upacara suran Mbah Demang.(sky/yog/mg1)