BANTUL – Penertiban area zona inti gumuk pasir tampaknya menghadapi kendala. Surat peringatan (SP) satu yang dilayangkan pemkab tidak digubris warga. Bahkan, hingga batas akhir SP satu Jumat (7/10) belum ada satu pun warga yang berdiam di area zona inti gumuk pasir membongkar bangunannya. “Ya belum ada yang membongkar,” jelas Slamet, 60, salah satu penghuni di area tersebut.

Slamet mengklaim mayoritas penghuni bakal kompak. Mereka tetap akan bertahan. Walaupun pemkab telah melayangkan SP tiga. Atau bahkan pemkab nantinya terpaksa menempuh pembongkaran. “Soale aku ora duwe panggonan (rumah),” ucap warga kelahiran Grogol VII, Parangtritis ini.

Slamet tak memungkiri tanah yang dimanfaatkannya sebagai rumah bukan miliknya. Bahkan, dia juga tidak mengantongi surat kekancingan dari Keraton. Kendati begitu, bapak empat anak ini menyarankan pemkab mencarikan solusi bijak. Yakni dengan menyediakan lahan hunian pengganti. Plus ganti rugi atas bangunan rumah miliknya yang dibongkar. Itu pun lahan penggantinya dengan syarat tidak jauh dari lokasi sekarang. “Maksimal satu kilometer,” ujarnya.

Atas dasar itu, Slamet menolak solusi rumah susun (rusun) yang ditawarkan pemkab. Menurutnya, rusun bukan solusi. Sebab, warga harus memulai lagi dari awal andai pindah ke rusun. Toh, tidak sedikit warga yang memiliki hewan peliharaan. “Itu mau ditaruh di mana?,” ungkap pria yang tinggal berada dalam satu rumah bersama tujuh anggota keluarganya ini.

Sebagai warga, Slamet mengaku sepakat dengan rencana penertiban dan penataan area zona inti gumuk pasir. Hanya, Slamet juga meminta pemkab mengedepankan aspek kemanusiaan.. “Kalau nggak manusiawi menentang Pancasila dong,” dalihnya.

Berbeda diungkapkan seorang petani di sekitar area zona inti gumuk pasir bernama Mardiono. Menurutnya, tidak sedikit warga di sekitar zona inti diajak melakukan perlawanan. Tetapi, mereka menolaknya. “Wong ngurusi sawah wae tenogone kurang,” tutur warga Grogol VII,Parangtritis ini.

Mardiono sepakat dengan rencana penertiban. Toh, mayoritas penghuni di area zona inti merupakan warga luar DIJ. Di sini, pendatang yang notabene sebagian besar perempuan ini hanya menyewa bangunan sebagai hunian. Di antara mereka bekerja sebagai pemandu karaoke. “Urip neng kene nek ora kuat imane iso rusak,” bebernya.

Sebagai sesama, Mardiono menaruh empati kepada para penghuni di area zona inti ini. Kendati begitu, pria yang akrab disapa Mbah Buyut ini tetap mendukung rencana pemkab. “Wong yo do teko dewe,” tambahnya.

Karena itu, Mardiono memprediksi para penghuni asal luar DIJ tidak akan bersedia pindah. Walaupun pemkab telah melayangkan SP tiga. “Lha arep pindah nendi?,” ucapnya.(zam/din/mg2)