Puncak Hujan Diprediksi Desember 2016 – Januari 2017
SLEMAN – Hujan deras disertai angin kencang masih terus melanda kawasan Sleman dan sekitarnya.

Kepala Stasiun Geofisika, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jogjakarta Tony Agus Wijaya mengatakan, cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi selama beberapa hari ke depan.

Karena itu, Tony mengimbau masyarakat senantiasa waspada setiap saat. Khususnya saat terjadi hujan deras. Ancaman petir juga sangat mungkin terjadi. Fenomena alam ini biasa terjadi di dataran tinggi. Kendati demikian, bukan berarti wilayah landai aman dari petir. Area persawahan, misalnya.

Adanya pepohonan tinggi, seperti kelapa, berpotensi memicu petir. Keberadaan manusia di tengah sawah juga bisa membahayakan jiwa. “Sebisa mungkin berlindung di dalam ruangan kalau ada petir. Hindari tempat tinggi. Jangan berteduh di bawah pohon atau tiang karena bisa menjadi penghantar petir dan bisa mengenai orang yang sedang berteduh di bawahnya,” papar Tony kemarin (9/10).

Potensi petir bisa terjadi di setiap tempat akibat distribusi hujan tidak merata. Dari data yang didapatkan curah hujan cenderung terkumpul pada hari tertentu, dengan intensitas tinggi. Inilah yang menyebabkan potensi bencana menjadi lebih besar. Dampak sekunder, seperti pohon tumbang, banjir, dan tanah longsor harus disikapi dengan kewaspadaan.

Tak kalah penting, Tony mengingatkan warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai berhulu puncak Gunung Merapi. Terlebih, saat ini masih ada sekitar 6 juta meter kubik material sisa erupsi 2010 yang bertengger di puncak. Banjir lahar hujan bisa terjadi sewaktu-waktu jika puncak diguyur hujan dengan intensitas tinggi. “Puncaknya bisa terjadi antara Desember 2016 hingga Januari 2017,” jelasnya.

Cuaca ekstrem juga dirasakan warga pesisir pantai. Gelombang laut bisa mencapai 2,5-4 meter. Melebihi batas aman bagi nelayan untuk melaut. “Biasanya nelayan sudah paham. Jika gelombang melebihi 2 meter mereka tidak akan melaut,” kata Tony.

Dikatakan, meningkatnya awan hujan merupakan dampak kenaikan suhu air permukaan laut. Namun, penyebab meningkatnya suhu air laut belum bisa diprediksi. Tony menduga akibat dampak global warming. Perubahan suhu, kata dia, terlihat merata di selatan Pulau Jawa.

“Bumi merupakan tanggung jawab bersama, kerusakan di satu wilayah turut mempengaruhi bumi secara keseluruhan,” tuturnya.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Kunto Riyadi mengiyakan soal potensi banjir lahar hujan di sungai berhulu puncak Merapi. Tak henti-hentinya Kunto mengingatkan warga bantaran sungai selalu waspada. Bahkan, jika perlu warga diminta menggilir ronda malam setiap terjadi hujan deras. Agar upaya antisipasi bencana lebih maksimal saat terjadi musibah. Setidaknya, warga bisa mengakses informasi bencana dari sistem early warning system (EWS). BPBD Sleman telah memasang 9 EWS di tiga titik. Satu unit terpasang di Sungai Boyong, tiga di Sungai Kuning dan lima lainnya di Sungai Gendol.

Menurut Kunto, jumlah tersebut belum ideal. BPBD berencana menambah tiga EWS lagi tahun ini. “Idealnya, semua sungai yang berhulu Merapi wajib terpasang. Agar lebih optimal untuk memantau ketinggian air,” katanya.

Pada bagian lain, Kunto lebih menitikberatkan pada kesadaran dan kepedulian masyarakat pada kegiatan mitigasi bencana. Terutama di lingkungan rawan bencana yang padat penduduk. Terutama warga di sepanjang bantaran lima sungai pembawa material erupsi Merapi. Yakni, Gendol, Boyong, Kuning, Opak, dan Krasak. Apalagi, saat ini terpantau adanya jalur baru aliran lahar hujan di Sungai Gendol.

Hal itu diantisipasi dengan menyiapkan kawasan khusus sebagai relokasi warga. Hanya, satu hal yang selalu menjadi kendala pemerintah adalah kesadaran warga untuk pindah ke tempat aman saat terjadi bencana. “Memang tak mudah membujuk warga supaya mau direlokasi. Ada romantisme tersendiri bagi warga hingga enggan pindah dari kawasan rawan bencana,” ujarnya.(dwi/yog/mg1)
Wilayah yang dilalui sungai berhulu puncak Merapi:
1 Sungai Gendol: Cangkringan (Glagaharjo, Kepuharjo, Argomulyo)
2 Sungai Boyong: Pakem (Hargobinangun, Candibinangun, Pakembinangun), Ngaglik (Sardonoharjo, Sinduharjo, Sariharjo), Mlati (Pogung). Kearah Kota Jogja hingga Bantul aliran disebut Sungai Code.

3 Sungai Kuning: Cangkringan (Umbulharjo), Pakem (Hargobinangun)
4 Sungai Krasak : Tempel (Merdikorejo, Lumbungrejo)
5 Sungai Opak : Ngemplak (Sindumartani), Prambanan