Gemari Macapat, Ditunjuk Jadi Penghageng Urusan Macapat Pakualaman

Di saat banyak berita miring soal perilaku anak muda di Jogja, masih banyak anak muda lainnya yang memilih kegiatan positif sebagai aktualisasi diri. Salah satunya Muhammad Bagus Febriyanto yang melestarikan budaya Jawa dengan mengajari macapat di Puro Pakulaman, sekaligus menjadi pranatacara atau MC berbahasa Jawa.

HERU PRATOMO, Jogja
SEBAGAI anak muda, Bagus merasa prihatin dengan perilaku sebagian anak muda di Jogja yang cenderung anarkistis. Menurutnya, hal itu dikarenakan orang tua yang kurang membekali anak-anaknya dengan sopan santun ala Jawa.

Contoh nyatanya, ada anak Jogja yang sejak kecil tidak dibiasakan bicara dengan bahasa Jawa. Kondisi tersebut, jelas Bagus, berbeda dengan didikan orang tuanya pada 1990-an. “Mungkin karena berpikirnya pragmatis, buat apa bisa bahasa Jawa? Padahal orang tua tersebut kecilnya juga mendapat pendidikan budaya Jawa,” ujarnya.

Pria kelahiran 15 Februari 1990 itu mengatakan, saat ini sebenarnya minat anak muda pada budaya Jawa, khususnya seni tradisi mulai meningkat. Bisa dilihat dari makin banyaknya peminat wayang atau pertunjukan seni lainnya. Bagus juga mencontohkan seperti di almameternya di Fakultas Ilmu Budaya UGM, untuk mata kuliah karawitan dalam tiga tahun belakangan ini bahkan membuka hingga 15 kelas.

“Tapi sayangnya mereka baru senang di seninya, di ranah sikap dan perilaku masih jadi persoalan besar,” ujarnya.

Persoalan yang dimaksudnya adalah perilaku negatif sebagian anak muda di Jogja, terutama pada saat malam hari. “Bisa disimak dari berita hampir tiap pekan ada kasus kekerasan,” ujarnya.

Menurutnya, itulah yang lupa diperhatikan para pemangku kebijakan. Termasuk dalam hal kebudayaan. Bagus pun mengkritik pemanfaatan Dana Keistimewaan (Danais) yang dinilainya belum menyentuh pada moral dan etika.

“Danais yang digarap masih pada seni pertunjukan, padahal sebenarnya yang juga perlu digarap pada moral dan etika,” lanjutnya.

Pria yang mendapat gelar Mas Lurah Citrapanambang dari Kadipaten Pakualaman itu mengatakan, sebenarnya moral dan etika tersebut sudah diajarkan oleh para leluhur. Menurutnya, budaya dalam hal ini seni Jawa tidak sekadar sebagai kajian, tapi mengandung berbagai pitutur yang membentuk karakter diri.

“Karena kalau tidak membentengi diri dengan cara lokal seperti leluhur, akan jadi generasi yang terombang-ambing, ada tren baru ikut,” ujarnya.

Putra pasangan Baedlowi dan Marsilah itu sudah membuktikannya sendiri. Meski tidak memiliki darah seni, sejak kecil Bagus sudah menyenangi budaya Jawa sejak kecil. “Sejak kecil terbiasa sering mendengar pidato bahasa Jawa jadi senang, di rumah pidato sendiri atau nembang sak kecekele,” ujarnya.

Kesukaannya itu makin tersalurkan saat SD, dengan berani tampil dalam Porseni dengan nembang Jawa. “Setelah itu selama tiga tahun belajar nembang di Keraton Jogja,” ungkapnya yang dalam usia 26 tahun sudah ditunjuk menjadi Penghageng Urusan Macapat Kadipaten Pakualaman.

Meski belajar nembang di Keraton Jogja, Bagus akhirnya menjadi abdi dalem Kadipaten Pakualaman. Itu karena saat skripsi di Jurusan Sastra Nusantara FIB mengangkat tema tentang naskah kuno di Puro Pakualaman. Kebetulan pula dosen pembimbingnya adalah Kepala Perpustakaan Pakualaman.

“Setelah lulus diminta membantu pernaskahan di Puro Pakulaman, karena kebetulan bisa nembang akhirnya juga membuka kelas macapat dan menjadi penghageng urusan macapat sejak 2013,” tuturnya.

Sambil menyelesaikan kuliah pascasarjana di Peminatan Filologi UI Jakarta, Bagus setiap akhir pekan masih menyempatkan menjadi pengajar macapat di Puro Pakualaman. Diakuinya mayoritas yang belajar macapat adalah orang tua, tapi terdapat pula anak usia sekolah yang masih mau belajar macapat.

“Ada sepuluh anak yang kadang meminta saya datang ke rumah untuk privat macapat, saya yakin jika terbiasa dengan budaya Jawa, perilakunya juga akan menyesuaikan,” harapnya. (ila/ong)