BANTUL – Dua penghuni sel tahanan Polsek Bangunta-pan, Bantul kabur kemarin (6/10). Mereka adalah Fuadi Bin Jahari, 34, warga Cirebon dan Toni Zakaria, 35, warga Watdek Langgur, Maluku.

Keduanya keluar sel dengan cara klasik. Menjebol eternit kamar mandi. Kondisi bangu-nan yang menua memudah-kan dua residivis itu menja-lankan aksi merek.

Berdalih kondisi bangunan, Kapolsek Banguntapan Kompol Suharno menampik kaburnya dua tahanan ini karena kelenga-han petugas. Dia mengklaim, saat dua tahanan kabur seluruh per-sonel masih stand by di mapolsek. Suharno menerima laporan ka-burnya dua tahanan tak lama setelah dia pulang ke rumah. “Wong aku lagi wae tekan omah njuk ditelpon,” katanya beralasan.

Sepintas, ruang tahanan ter-sebut memang tampak rapuh dimakan usia. Konstruksi atap kamar mandi terkesan ala ka-darnya. Hanya berupa eternit berbahan asbes.

Di atas eternit tidak ada perangkat pengaman lain seperti kawat ranjau atau terali besi yang bisa menahan seseorang keluar dari atap. Lang-sung genting. Karena itulah dua tahanan itu dapat dengan mudah menjebol atap. Meski tanpa bantuan alat sekalipun.

Terali besi bagian atap baru dipasang sore harinya, setelah kejadian. Untuk mencegah kasus serupa terulang di kemudian hari. Se-dangkan di atas atap sel tahanan hanya diperkuat dengan papan kayu dan kawat berduri.

Ruang tahanan mapolsek ter-diri atas tiga bilik. Satu bilik untuk sel tahanan menghadap ke barat. Dua lainnya kamar mandi yang berjejer menghadap ke utara. Persis di depan ruang tahanan. Pada waktu tertentu tahanan bebas keluar-masuk ruang tahanan menuju kamar mandi. Sedangkan satu pintu utama selalu terkunci.

“Ngerti dewe tho bangunane koyok ngono (tahu sendiri, kan, bangunanya seperti itu),” kata-nya sambil menunjuk lubang eternit. Menurut Suharno, gedung Polsek Banguntapan sebenarnya telah masuk daftar aset yang harus direhab pada 2016.

Namun, karena alasan tertentu rencana tersebut ditunda. Kaburnya tahanan curat dan curanmor itu menambah panjang deretan kasus penghuni penja-ra yang melarikan diri dari sel pada 2016. Pada Minggu (26/6), lima narapidana penghuni Lapas Kelas IIB Cebongan, Sleman kabur setelah menjebol atap.

Modus yang dilakukan hampir serupa. Mereka memanfaatkan kelengahan petugas jaga. Se-perti kasus di Cebongan, dua tanahan Polsek Banguntapan diduga kabur disela pergantian piket jaga.

Suharno mengungkapkan, kaburnya dua tahanan diketahui sekitar pukul 19.30, Selasa (4/10). Menurutnya, saat itu ada petu-gas yang baru saja mengecek dua tahanan tersebut.

“Tak lama kemudian, salah satu tahanan berteriak. Pak, tahanan kabur!,” ucap Suharno menirukan teria-kan tahanan kasus penjambre-tan itu.

Ketika itu hanya ada tiga orang penghuni sel tahanan. Menerima laporan tersebut, bekas Kapolsek Turi, Sleman ini langsung mengerahkan seluruh personelnya untuk melakukan pengejaran. Suharno berujar telah mendeteksi lokasi persem-bunyian dua tahanan itu.

Namun, polisi tak segera menangkap mereka. Suharno beralasan menunggu saat yang tepat. Fuadi dan Zakaria kabur me-nyusul selesainya berkas acara pemeriksaan (BAP) oleh penyi-dik polisi. Salah satunya telah P21 (lengkap) dan siap dilim-pahkan ke Kejaksaan Negeri Bantul.

“Rencananya minggu depan mau kami serahkan ke kejaksaan,” ungkap perwira me-nengah dengan dua melati itu.Terpisah, Kabid Humas polda DIJ Kombes Pol Anny Pudjiastuti mengatakan, kaburnya dua tahanan Polsek Banguntapan menjadi perhatian serius Polda DIJ.

Menurutnya, polda telah mengusulkan pembangunan /rehab bangunan sejumlah ma-polsek di DIJ ke Mabes Polri. “Pengajuan anggaran langsung ke pusat karena alokasi angga-rannya ditangani oleh mabes,” jelasnya. (zam/yog/ong)