JOGJA – Sebuah bangunan khas berdiri tidak jauh dari sisi timur simpang empat Pringgokusuman, Gedong Tengen, Jogja. Pagar bangunan dengan motif batu kali berdiri kokoh di bagian depan bangunan. Seperti bagunan di Kota Jogja pada umumnya, keberadaan rumah itu berdempetan dengan bangunan lain.

Bangunan dengan dinding bagian depan bermotif marmer tampak seperti rumah tinggal ketimbang ruko. Suasana sepi tanpa aktivitas kemarin (4/10) menandakan rumah itu sudah tidak lagi ditempati. Gerbang besi dengan lebar berkisar satu meter itupun terlihat terkuci.

“Sudah sekitar dua minggu ini kosong tidak ditempati,” jelas Pak Di salah satu warga yang banyak beraktivitas dekat dengan rumah tersebut kepada Radar Jogja, kemarin (4/10).

Ya, keberadaan rumah tersebut sempat membuat warga sekitar heboh atas penggerebekan yang dilakukan oleh satuan reserse kriminal (Satreskrim) Polresta Jogjakarta belum lama ini. Diakui Pak Di, warga mengetahui keberadaan aktivitas esek-esek di rumah itu sejak lama. Setiap hari, dia selalu melihat perempuan keluar masuk rumah itu. Tidak hanya itu, bahkan di malam hari, lelaki-lelaki yang tidak dikenali dari berbagai kalangan juga tampak keluar masuk rumah itu.

“Kalau siang memang sepi. Tapi, malam hari terutama malam minggu bisa ramai sampai jam empat subuh,” jelasnya.

Aktivitas rumah tingkat dua itu memang baru ada pada malam hari. Di siang hari, pintu rumah berwarna cokelat itu selalu tertutup. Memasuki malam hari, lanjutnya, terdapat banyak tamu yang datang mulai dari berjalan kaki hingga mengendarai mobil pribadi.

“Saya sering lihat perempuan keluar masuk. Namun sebagian besar mereka tidak tinggal di tempat itu,” jelas lelaki asal Bantul yang keseharian menjadi penarik becak.

Pak Di menuturkan, dirinya kerap kali bertemu dengan perempuan yang sering keluar masuk di rumah itu. Beberapa perempuan yang dia kenal sebagian besar berasal dari luar Jogjakarta seperti Magelang, Solo, Temanggung, Ambarawa, dan Cilacap.

Setelah tidak beroperasi lagi, jelasnya, perempuan-perempuan itu banyak yang memilih kembali ke daerah asal. “Takut sama polisi,” jelasnya.

Bahkan, Pak Di pun mengenal baik dengan SN, 40, alias Gendut yang selama ini menjadi kaki tangan dari Kijan alias SN yang mengelola bisnis itu.

Selama ini, warga mengenal Gendut sebagai sosok yang suka bergaul dengan masyarakat sekitar dan tidak terutup. Bahkan, ketika kumpul dengan warga, selalu memberi jajanan. “Kalau siang-siang gini pas dia (Gendut) lagi beli makanan kami selalu ditraktir,” terangnya.

Dia mengaku mengetahui tertangkapnya Gendut oleh pihak kepolisian dari para tetangga rumah itu. “Saya tidak menyaksikan langsung. Tahunya setelah kejadian kira-kira setelah Idul Adha,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, rumah yang jaraknya tak lebih dari tiga kilometer dari Polresta Jogjakarta itu ditenggarai sebagai rumah yang menyediakan jasa prostitusi pesan antar. Dari rumah itu diamankan dua orang tersangka SN dan LH.

Dari kediaman itu didapati tiga album yang berisi 59 foto perempuan. Termasuk sebuah whiteboard berisi 12 daftar nama yang baru saja di-booking. Rata-rata usia perempuan dalam puluhan foto itu sekitar 25 sampai 40 tahun. “Nama-nama seperti Silvi, Tia, Nana itu hanya nama komersial saja,” jelas Kasat Reskrim Polresta Jogjakarta AKP M Kasim Akbar Bantilan.

Perempuan yang ada di album itu dikenakan tarif Rp 600 ribu untuk sekali kencan cukup terkenal dengan istilah short time. Dari transaksi itu, pengelola menerima Rp 400 ribu dan pekerja seks komersial mendapatkan bayaran Rp 200 ribu.

Akbar Bantilan menjelaskan, rumah itu digunakan sebagai showroom. Sehingga, eksekusi tidak dilakukan di tempat itu. “Mereka hanya menawarkan foto saja, setelah deal dan booking lalu diantar sesuai tempat yang disepakati,” jelasnya.

Dari keterangan tersangka, mereka sudah sekitar enam bulan menjalankan aktivitas bisnis itu. Sementara itu, dari keterangan saksi PSK yang sempat diamankan Polresta Jogjakarta, perempuan yang bekerja di tempat itu selalu berganti-ganti. “Rata-rata baru-baru berkisar dua sampai tiga bulan bekerja,” jelasnya.

Jajaran Polresta Jogjakarta sendiri kini masih melakukan pengembangan mendalam terhadap jaringan prostitusi yang dijalankan oleh tersangka. Termasuk, menawar jasa prostitusi melalui media sosial. “Kami masih lakukan pendalaman,” kata Akbar.

Kedua tersangka kini tengah meringkuk di tahanan Polresta Jogjakarta. Mereka berdua terjerat Pasal 296 dan 506 KUHP dengan ancaman hukuman 2 tahun 8 bulan penjara.

Sering Dapat Tips Usai Mengantar
Suasana di simpang empat Pringgokusuman, Gedong Tengen, Jogja siang kemarin (4/10) cukup terik. Tidak jauh dari lokasi rumah penjaja prostitusi antar jemput itu, para penarik becak tengah berteduh dari panasnya matahari di dalam alat transportasi tradisional itu.

Pohon talok yang ada di sudut simpang empat Pringgokusuman, menaungi becak-bacak yang hari itu terpakir di bawahnya. Suasana sejuk semilir terasa ketika angin sepoi-sepot bertiup.

Penarik becak menjadi salah satu profesi yang terkena imbas ditutupnya prostitusi antar jemput di kawasan Pringgokusuman. Bahkan, salah seorang penarik becak yang enggan disebutkan namanya ini mengakui pendapatan mereka turun sampai 40 persen. “Biasanya mendapatkan tips dari tamu maupun perempuan yang ada di rumah itu. Semenjak ditutup ya sepi,” jelas penarik becak warga asli Gedong Tengen ini.

Dia kerap kali mengantarkan tamu yang hilir mudik ke rumah itu. Tidak hanya para tamu, terkadang pekerja seks komersial (PSK) dari rumah pun menggunakan jasanya untuk diantar ke hotel-hotel tempat para lelaki hidung belang itu menunggu.

“Rumah itu bukan untuk “main”. Kalau mereka mau “main” di luar. Kadang kami para penarik becak di sini mendapatkan penumpang dari rumah itu menuju ke hotel-hotel,” ujarnya.

Saat akhir pekan atau waktu-waktu masa liburan, rumah itu ramai dikunjungi para lelaki. Bila bernasib mujur dirinya bisa menerima tips hingga Rp 700 ribu dalam satu malam. “Kami tidak pernah meminta. Kadang ada yang ngasih sampai Rp 100 ribu,” jelasnya.

Sepengetahuannya, keberadaan rumah yang menjajakan PSK antar jemput itu sudah lama. Bahkan, keberadaan rumah itu sudah cukup terkenal di berbagai kalangan. “Setahu saya disaat libur, pelanggannya kebanyakan dari luar Jogjakarta. Informasi ini saya dapat dari cerita-cerita perempuan yang saya antar,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, ketika peristiwa penggerebekan terjadi, dirinya pun sempat dipamiti para PSK yang dijajakan di rumah itu. Mereka memilih pulang ke daerah asal karena takut terseret. “Rata-rata nge-kos di daerah Pringgokusuman sini. Setelah peristiwa itu mereka pulang ke daerah asal,” jelasnya. (bhn/ila/ong)