BANTUL – Akar penyebab terendamnya puluhan hektare lahan pertanian di wilayah Bantul selatan terjawab. Tidak berfungsinya pintu air kelep dan afvour sebagai penyebabnya. Kondisi itu diperparah oleh sikap pemerintah yang tak cepat tanggap. Melakukan perbaikan dan normalisasi saluran air yang membentang tengah lahan pertanian produktif ini.

Kepala Desa Panjangrejo, Pundong Daru Kisworo mengungkapkan, fenomena terendamnya lahan pertanian produktif di wilayah Panjangrejo terjadi setiap tahun. Terutama, saat musim penghujan. Air ini berasal dari luapan afvour. “Yang rutin terendam ada sekitar 40 hektare,” jelas Daru kemarin (4/10).

Ada dua titik afvour bermasalah di wilayah Panjangrejo. Menurut Daru, tidak berfungsinya salah satu afvour disebabkan adanya pendangkalan. Tumpukan sedimen mengurangi fungsi saluran pembuangan air ini. “Ada sekitar 400 meter yang perlu dinormalisasi,” ucapnya.

Satu afvour lagi bermasalah karena pintu air yang berada di hilir terlalu sempit. Total ada tiga pintu air di penghujung afvour. Lebar masing-masing pintu hanya 80 sentimeter. Padahal, lebar afvour mencapai lima meter. Pintu-pintu ini kerap tersumbat lantaran banyaknya tumpukan sampah yang terbawa aliran air. Aliran afvour menjadi terganggu.

“Sehingga air sepanjang afvour meluap kemana-mana,” ungkapnya.

Daru mengaku tak tinggal diam melihat kondisi ini. Dia selalu mendesak pemkab agar melakukan upaya normalisasi afvour setiap kali musrenbangdes. Begitu pula dengan penanganan pintu air afvour. Namun, hingga kemarin tetap belum ada tindak lanjut. “Padahal ini mendesak,” tegasnya.

Terkait penanganan pintu air, Daru mengatakan, merupakan wewenang Balai Besar Wilayah Sungai Serau Opak (BBWSSO). Itu merujuk keterangan yang disampaikan Dinas Sumber Daya Air (SDA) Bantul kepada pemdes Panjangrejo. Setali tiga uang, BBWSSO juga belum merespons keluhan para petani Panjangrejo. “Kami inginnya pintu air dibongkar atau dilebarkan,” harapnya.

Pada bagian lain, persoalan serupa juga dialami para petani di Poncosari, Srandakan. Lahan pertanian seluas 50 hektare rutin terendam banjir. Air ini berasal dari luapan Sungai Triwedadi.

“Kalau hujan besar pasti banjir,” ucap Rendi, warga Kuwaru, Poncosari, Srandakan.

Usut punya usut, sungai yang berasal dari dam Kamijoro ini mengalami pendangkalan. Tetapi, kondisi tersebut tidak disebabkan penumpukan sedimen. Melainkan kecerobohan pemborong. Rendi menceritakan, sekitar 15 tahun lalu bantaran sungai dibangket. Sayangnya, berbagai material bangunan dan tanah pengerukan tidak dibawa pemborong. “Dibiarkan begitu saja di sungai,” keluhnya.

Rendi menambahkan, para petani sering mengeluhkan persoalan ini kepada pemkab. Termasuk meminta upaya normalisasi sungai. “Tetapi, ya, nggak ada respons,” katanya.(zam/ong)