Polda DIJ Dalami Adanya Miras di TKP

KULONPROGO – Bripka Iwan Rudiyanto anggota Detasemen Pelopor B Sentolo Sat Brimob Polda DIJ ditemukan meninggal dunia dengan luka tembak di kepala Senin (3/10) lalu. Sekitar pukul 23.00 dia ditemukan bersimbah darah di rumah salah satu warga di Kelurahan Sindurjan RT 03 RW 05, Purworejo.

Ada tiga saksi dalam kejadian itu, yakni Agung Pribadi Hendra Kusuma, warga Sindurjan RT 03 RW 05 Purworejo; Slamet Riyadi warga Tegalmalang, RT 03 RW 05, Kutoarjo, Purworejo. Serta Supriyono warga Sindurjan RT 03 RW 05 yang merupakan pemilik rumah di tempat kejadian perkara (TKP).

Kronologi kejadian bermula ketika ketiga saksi diundang Bripka Iwan main ke rumahnya di Kelurahan Padureso, Purworejo. Setelah itu ketiga saksi kembali ke rumah Supriyono di Kelurahan Sindurjan. Sekira pukul 22.30 Bripka Iwan menyusul ke rumah Supriyono di Sindurejan.

Kurang lebih pukul 23.00 di teras rumah Supriyono, Bripka Iwan Rudiyanto tiba-tiba mengambil senjata api dari dalam tas miliknya. Dia berniat membersihkan atau memainkan senpinya. Silinder pistol dibuka, kemudian dia menembakkan ke arah kanan atas sebanyak dua kali. Namun untuk tarikan pelatuk yang ketiga senjata api diarahkan sendiri ke arah kepala Bripka Iwan tepatnya di pelipis kanan.

Senpi meledak, peluru menembus kepala Bripka Iwan hingga tembus memecahkan kaca rumah Supriyono. Peristiwa itu langsung dilaporkan ke kantor Satlantas terdekat. Oleh anggota Sat Lantas Polres Purworejo bernama Brigadir Achmad Nahnu dan Bripka Fitri Nazarudin korban di bawa ke RSUD Dr Tjitrowardojo Purworejo.

Kemarin (4/10) jenzahnya dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kauman, Dusun Bujidan, Tawangsari, Pengasih, Kulonprogo. Almarhum meninggalkan istri dan satu anak.

Sebelum dimakamkan jenazah sempat disemayamkan di rumah duka di Siluwok Kidul, Desa Tawangsari, Pengasih, Kulonprogo. Ratusan pelayat yang idominasi anggota kepolisian ikut melepas jenazah dari rumah duka hingga peristirahatan terakhir.

Upacara pemberangkatan jenazah dipimpin langsung Komandan Batalyon Detesemen Pelopor B Sentolo Sat Brimob Polda DIJ AKBP M Akbar Thamrin pukul 14.00. Sementara prosesi pemakaman didahului dengan Apel Persada dipimpin Wadanyon Detasemen Pelopor B Sentolo Kompol Junaidi Hidayat.

“Almarhum adalah pribadi yang baik,” ungkap Kompol Junaidi Hidayat di sela prosesi pemakaman.

Dijelaskan, setiap anggota Brimob melalui proses pembinaan dan pengawasan melekat secara berjenjang. Selama di kesatuan secara psikologis dan fisik yang bersangkutan layak, bahkan lihai dalam menggunakan senjata. Terlebih anggota yang diperkenankan memegang senjata juga sudah melalui rangkaian tes.

“TKP-nya di Purworejo, menurut keterangan sementara dia tengah membersihkan senjata, tapi meledak mengenai kepala,” jelasnya.

Terkait inforimasi korban mengonsumsi miras, lanjut Junaidi, pihaknya masih akan melakukan proses penyelidikan dengan berkoordinasi dengan Polres Purworejo. “Ada dugaan ke arah situ, namun kami masih melakukan pendalaman. Yang jelas, korban meninggal saat membersihkan senjata dengan cara memutar pelatuk hingga akhirnya meledak dan mengenai kepala korban,” lanjutnya.

Kakak Sepupu korban, Waldiyono mengaku kaget dengan kabar kematian adik iparnya. Terlebih korban memang jarang pulang ke Siluwok Kidul setelah menjadi anggota polisi dan menikah di Purworejo.

“Saya sudah hampir setahun tidak pernah ketemu. Kalau ketemu saya yang ke Purworejo. Terus terang saya kaget dan saya juga tidak memiliki firasat apapun atas kematian adik saya,” ucapnya.

Sementara itu, Polda DIJ masih melakukan pendalaman apakah peristiwa itu merupakan tindak bunuh diri karena kesengajaan. Sebab ada indikasi pelaku tidak sengaja mengakhiri hidup dengan cara tragis tersebut.

Kabid Humas Polda DIJ Kombes Pol Anny Pudjiastuti mengatakan, masih terlalu dini mengatakan tindakan Bripka Iwan Rudiyanto akibat bunuh diri secara sengaja atau kecerobohan. Pihaknya, akan melakukan penyelidikan dengan memintai keterangan dari sejumlah saksi-saksi yang ada di TKP.

“Korban sempat mengarahkan senjata ke atas dan menembakan tapi ket (tidak meletus). Namun saat diarahkan ke kepala meletus,” jelas Anny ditemui di ruang kerjanya di Mako Polda DIJ, kemarin (4/10).

Anny menyayangkan kejadian yang menimpa anggota Datasemen B Sentolo Brimob Polda DIJ. Sebab selama ini, izin penggunaan senjata sudah sesuai dengan peruntukan. Pejabat kepolisian yang beberapa bulan lagi pensiun dari Korps Bhayangkara ini menjelaskan, anggota yang memegang senjata api, sudah terlebih dahulu tercatatan dalam uji seleksi psikologi. “Tes psikologi secara berkala, setiap enam bulan sekali,” tandasnya.

Untuk Bripka Iwan, kata Anny, sudah menjalami tes psikologi. Yang disayangkan pihak Polda DIJ saat kejadian, ditemukan adanya minuman keras di TKP. “Ini yang kami sayangkan. Kalau kami mengetahui anggota suka minum, tentu senjata sudah kami tarik,” jelasnya.

Dari keterangan saksi-saksi, kata Anny, Bripka Iwan sempat mengeluh persoalan keluarga. Dari keterangan rekan dan saksi, Bripka Iwan kerap kali mengeluhkan anak dari istri yang kerap kali sulit diatur. “Sayangnya curhatan itu tidak sampai ke atasan,” jelasnya.

Dia berharap kepada semua anggota, untuk menyampaikan segala persoalan yang menimpa ke atasan, untuk mengambil langkah-langkah antisipasi. Setiap curhatan akan ditanggapi dan ditangani sesuai dengan keluhan. “Persoalan psikologis memang butuh penanganan khusus. Kami menyediakan layanan itu bila ada anggota yang mengeluh,” jelasnya. (tom/bhn/ila/ong)