JOGJA – Masyarakat yang sakitnya tidak terlalu parah dan masih bisa berjalan, diminta utnuk datang sendiri menebus obat ke apotek. Hal itu untuk memastikan jika obat yang dikonsumsi benar dan sesuai dengan dosisnya. Selain itu, masyarakat juga harus memastikan yang memberikan obat adalah apoteker.

“Memang kebiasaan masyarakat kita, yang datang menebus obat adalah suruhan, kami menghimbau masyarakat yang sakitnya tidak parah bisa datang sendiri,’ ujar Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Nurul Falah Eddy Pariang.

Menurut dia, dengan datang sendiri ke apotek bisa memastikan obat yang dikonsumsinya sesuai dan tidak salah. “Tentunya ketika datang juga menanyakan apotekernya ada tidak,” lanjutnya.

Nurul menjelaskan ketika datang sendiri bisa memastikan obat yang diresepkan dokter sesuai dengan yang diberikan apotek. Selain itu seorang apoteker juga harus menjelaskan mulai dari dosisnya, cara penggunaan, efek samping, bahkan jika ada obat hingga dua atau tiga jenis kemungkinan interaksi bagi pasien. “Sehingga pasien tidak keliru meminum obat dan sesuai takarannya,” jelas dia.

Nurul mencontohkan seperti penggunaan obat antibiotik. Biasanya antibiotik akan diberikan sebanyak 12 tablet, tapi biasanya sebelum seluruhnya habis dan pasien merasa sudah enak, tidak dihabiskan obatnya. Hal itu bisa mengakibatkan tubuh pasien resitensi pada antibiotik tersebut. “Dan kalau butuh antibiotik lagi, biasanya butuh yang lebih tinggi, yang harganya lebih mahal,” jelasnya.

Pasien dimintanya bisa mematuhi pesan dari apoteker. Tapi, pasien juga diminta bisa memastikan jika yang memberikan adalah apoteker. Caranya dengan bertanya langsung. Tiap apotek minimal memiliki dua apoteker, jika tidak ada apoteker di tempat, apotek harus memasang tulisan tidak ada apoteker dan tidak melayanani pelayanan obat dan resep dokter.

IAI sendiri juga mengeluarkan program tiada apoteker tiada pelayanan. “Kalau tidak ada apoteker tidak boleh melayani, jika ada yang melanggar izinnya bisa dicabut,” tegasnya. (pra/din/ong)