JOGJA- Masyarakat Jogjakarta menyambut Hari Batik Nasional dengan gegap gempita kemarin (2/10). Peringatan hari batik kali ini menjadi momentum para desainer untuk unjuk gigi atas karya mereka. Ada yang menggelar pameran busana di lobi Bandara Adi Sutjipto. Sebagian lain menyelenggarakan pameran di hotel-hotel.

Pagelaran “Batik Fashion Show 2016” di bandara merupakan penghargaan atas warisan budaya dunia, sekaligus mendukung potensi wisata di wilayah Joglosemar (Jogja, Solo, dan Semarang).

Sementara, para desainer muda Jogja memilih gabung di Hit Tea Fashion Show di Andrawina Restaurant di The Alana Hotel, yang mengusung konsep teatrikal dengan iringan musik biola dan puisi.

Ada tujuh desainer tergabung dalam “The Rempeyek”. Sebagian berasal dari luar Jogja. Di antaranya, Ibra Maulana, Endarwati, Pungky Rima, Theo Ridzky, Lidwina Wury, dan Darie Gunawan.

“Ini memang teatrikal fashion. Mengawali catwalk para model ada penampilan pantomim,” ujar Wiwied A. Widyastuti, Public Relations Manager The Alana Hotel.

Hi-Tea Fashion Show mengangkat karya-karya batik dari beberapa desainer muda. Mengusung tema “Senja di Andrawina”, dikolaborasikan dengan program Hi-Tea Time The Alana Hotel. Hi Tea merupakan tradisi masyarakat Inggris untuk menikmati secangkir teh dan makanan ringan di waktu senja, sebelum menyantap makan malam. Tradisi itu kini makin berkembang di Indonesia sebagai salah satu fasilitas hotel bagi para tamu.

Dalam kesempatan itu Darie Gunawan menampilkan 7 outfit bertema “Summer Forever“. Darie menggunakan bahan batik sogan yang warna-warni yang terkesan enerjik namun santai. Di antaranya, hijau, kuning, biru, dan orange.

Sebagaimana diketahui Hari Batik Nasional ditetapkan tiap 2 Oktober berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009. Itu sebagai tindak lanjut atas penetapan batik sebagai warisan kemanusiaan budaya lisan dan nonbendawi oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009.(cr1/yog/ong)