Geliat Usaha Ekonomi Kreatif di Wilayah Barat Sleman

Sudah puluhan tahun wilayah Plembon, Sendangsari Minggir, Sleman dikenal sebagai sentra penghasil tikar berbahan mendong. Seiring perkembangan teknologi, warga menyulap tikar mendong menjadi aneka produk. Seperti sandal, dompet, dan tas. Siapa sangka, produk karya petani usia lanjut ini mampu menembus pasar internasional.

DWI AGUS, Sleman
Suasana Minggu (2/10) yang cerah mengantarkan Radar Jogja ke sudut barat Kabupaten Sleman. Putaran roda sepeda motor terhenti di satu pedesaan. Plembon, Sendangsari, Minggir. Desa ini terkenal sebagai sentra perajin mendong.

Bagi sebagian orang, mendong memang tak begitu familiar. Berasal dari tanaman yang memiliki nama latin Fimbristylis Umbellaris. Setelah dikeringkan, daun tanaman ini mampu diolah menjadi kerajinan bernilai ekonomi tinggi.

Menjawab rasa penasaran akan produk mendong, dengan diantar seorang warga, Radar Jogja diajak ke rumah Dukuh Plembon Dwiyanto. Di tempat ini terlihat beberapa warga tengah menganyam mendong kering menjadi gulungan.

“Ini adalah kegiatan rutin para warga yang sudah tidak aktif bertani. Mereka memilih menekuni kerajinan ini karena memiliki nilai ekonomi. Rata-rata memang ibu-ibu berusia lanjut,” kata Dwiyanto penuh ramah.

Pria kelahiran 20 Desember 1968 ini aktif membina warga. Dengan tekun dan sabar, Dwiyanto mendampingi warganya untuk mengolah mendong. Dari bahan mentah menjadi produk jadi. Plembon menjadi sentra mendong tak lepas banyaknya bahan baku yang tersedia. Semula, mendong hanya dibuang begitu saja oleh petani. Atau untuk pakan ternak. Namun, setelah warga tahu manfaat ekonomi mendong, bahan itupun disiapkan secara khusus. Sebagian petak sawah sengaja disiapkan untuk menanam mendong.

“Awalnya memang hanya tikar tradisional yang kami produksi. Menjelang 2009 barulah muncul inovasi ragam produk. Dari sekadar coba-coba, kini tercipta beberapa produk unggulan yang diproduksi hingga saat ini,” ujarnya.

Sebelum membuat dompet dan tas, Dwiyanto mengubah tikar mendong menjadi sarung bantal kursi. Bentuk yang lebih sederhana dan mudah dibuat. Dibanding tikar, sarung bantal kursi lebih laku dijual. Sehingga mampu mendatangkan keuntungan lebih banyak.

“Ini yang lantas memotivasi warga untuk turut mengembangkan potensi mendong,” tambahnya.

Tak hanya itu, guna melebarkan sayap produksinya Dwiyanto lantas mendirikan “Deriji Handycraft”. Untuk memudahkan pemasaran produk. Juga untuk mengorganisasi warga dalam pengembangan produk selanjutnya. Dia juga membuat website dengan alamat www.derijimendong.com. Dalam situs ini terlampir jelas beragam produk andalan warga Plembon tersebut.

Pasar produk mendong hampir merata di Nusantara. Selain pasar lokal di kota-kota/kabupaten Pulau Jawa, produk ini cukup diminati konsumen di Sumatera, Sulawesi, hingga Papua. Beberapa eksportir lokal juga memburu produk ini untuk dipasarkan keluar negeri.

“Kalau untuk ekspor langsung saya belum bisa. Tapi ada eksportir yang memesan untuk dipasarkan sendiri ke Jerman, Swiss. Belum lama ini dikirim ke Jepang,” jelasnya.

Untuk meningkatkan kualitas produk, Dwiyanto mengombinasikan mendong dengan bahan lain, yang juga berasal dari alam. Misalnya, akar wangi untuk produk tas. Untuk mendongkrak minat pembeli, rajutan tas diberi warna-warni. “Setidaknya sudah ada beberapa pelanggan tetap yang mengambil langsung,” katanya.

Selain itu, Dwiyanto juga menjadi langganan pemesanan tikar untuk jamaah haji sejak 2014. Setiap tahun pesanan tikar bisa mencapai 1.300 lembar.

Banyak pesanan bukan berarti produksi mendong tanpa kendala. Untuk bahan baku, jamur menjadi momot utamanya. Kendati demikian, masalah ini bisa diatasi dengan menyemprot bahan baku dengan obat antijamur sebelum diproduksi. Keterbatasan sumber daya manusia menjadi alasan lain. Pekerja didominasi pekerja sepuh alias lansia. Itupun, membuat mendong bukan menjadi mata pencaharian utama. Hanya dikerjakan disela waktu bertani. Karena itu, Dwiyanto membekali para pekerjanya dengan mesin portable yang bisa dibawa pulang. Agar warga lebih produktif mengolah bahan setengah jadi di rumah masing-masing. Sementara minat pemuda Plembon untuk menggeluti dan melestarikan mendong masih rendah.(yog/ong)