Jadi Langganan Tetap Keraton Jogja dan Solo

Konsistensi, kata ini patut disematkan kepada keturunan almarhum Tugimin Narno Hartono. Generasi ketiga perajin kuningan di Dusun Ngawen, Sidokarto, Godean, ini bertahan hingga sekarang. Bahkan bisa dibilang satu-satunya perajin kuningan yang tetap produktif.

DWI AGUS, Sleman
Kerajinan berbahan baku kuningan sudah menjadi trademark seorang Tugimin Narno Hartono. Meski telah tiada, keampuhan seorang empu kuningan masih tertanam pada generasi penerusnya. Bahkan “bengkel” yang terletak di Dusun Ngawen, masih aktif mengepul hingga saat ini.

Kerajinan ini memang memiliki pamor yang sangat kuat. Terbukti, kuningan hasil karya trah Pak Min menjadi langganan tetap Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Kasultanan Ngayogyakarta. Bahkan belum lama ini pesanan datang dari Keraton Surakarta.

“Dari Solo (Kasunanan) pesan hiasan untuk kereta kencana dan kuda penariknya. Sudah langganan tetap, dari Jogjakarta juga sering memesan. Baik itu dari keraton atau para pangerannya, terutama GBPH Yudhaningrat,” kata Krisna Susanto, 38.

Krisna merupakan trah langsung almarhum Pak Min. Upaya pelestarian ini dilakoni bersama keluarga, terutama sang ibu Nardia Narno Hartono, 70. Mengenai kerajinan kuningan ternyata warisan dari sang kakek Karyo Suwarno.

Kala itu sang kakek sudah menekuni kerajinan kuningan sejak zaman penjajahan. Untuk kepastian tahun, Krisna tidak bisa mengingat karena dilakoni sejak kakeknya berusia muda. Berlanjut di tangan Tugimin Narno Hartono yang justru semakin moncer.

“Khusus kuningan yang dihasilkan bapak untuk penghias andong dan kuda. Hampir seluruh andong dan kuda di Jogjakarta memakai kuningan hiasan produk Pak Min. Mulai pengikat tali pelana, sunduk batik, hingga penghias roda andong,” ujarnya.

Sebagai generasi ketiga, pelestarian ini diakui oleh Krisna tidaklah mudah. Dari segi bahan baku, ia sangat mengandalkan limbah kuningan. Ini biasanya dia dapatkan dari keran air berbahan kuningan.

Keran-keran ini dia dapatkan dari berburu di pasar Beringharjo. Tak jarang dalam satu masa, bahan baku kuningan langka. Alhasil usaha ini harus istirahat sementara waktu hingga bahan baku tersedia.

“Tapi saya tidak mau pakai kuningan dari pemberat timbangan. Bukan apa, karena terkadang timbangan itu ada yang hasil curian. Untuk jaga-jaga saja jadi tidak memakai dari timbangan,” katanya.

Secara terbuka ia menceritakan pedihnya melestarikan usaha ini. Dari segi keuntungan sejatinya tidak sebanding dengan proses pembuatan. Mulai dari mencari bahan baku, menempa hingga proses akhir pencetakan.

Untuk membuat cetakan, dibantu sang ibu Nardia menggunakan malam batik. Kuningan yang telah ditempa kemudian dimasukkan ke dalam cetakan. Penempaan membutuhkan waktu yang tepat agar hasilnya optimal.

“Untuk membakar kuningan bisa membutuhkan waktu empat jam. Dibuntel tanah liat dan didinginkan lalu dipecah untuk melihat hasilnya. Jika ada cacat harus diulang dari awal, kuningan dilebur lagi untuk dimasukkan dalam cetakan,” katanya.

Uniknya Krisna enggan menaikan harga jual kuningan ini. Menurutnya, jika harga dinaikkan maka tidak ada pembeli. Sementara perlahan harga bahan baku merangkak naik. Keluarga besar Pak Min sepakat hanya mencari keuntungan kecil tapi tetap bisa bertahan.

Sebagai contoh untuk mangkok penghias roda andong motif batik berharga Rp 200 ribu. Sementara untuk 1,5 kg kuningan harganya berkisar Rp 80 ribu. Bertambah dengan harga tanah liat untuk satu gerobag kecil Rp 50 ribu. Belum dengan bahan baku pendukung lain dan waktu untuk membuatnya.

“Keuntungannya pelan-pelan saja dan tidak ambil banyak. Tujuan lainnya memang ingin melestarikan kerajinan ini. Apalagi di Sleman kerajinan kuningan untuk andong dan kuda hanya di sini. Merupakan warisan yang wajib dijaga dan dilestarikan,” katanya. (laz/ong)