GUNUNGKIDUL – Kepolisian terus berupaya memperbaiki kinerjanya sebagai pelayan masyarakat. Salah satunya melalui kesantunan dalam menjalankan tugas.

Demikian disampaikan Kasat Lantas Polres Gunungkidul AKP Samiyono menindaklanjuti razia pelajar pengguna motor. Tidak hanya selesai pada sanksi tilang, namun juga diteruskan dengan sosialisasi menyeluruh.

Khusus kepada pelajar, petugas mendatangi sekolahan. Memberi edukasi tentang bahaya menggunakan kendaraan jika belum waktunya, sekaligus mencari solusi terkait minimnya sarana transportasi.

“Karena itu, fokus razia pelajar akan diintensifkan di perkotaan. Meski demikian, di daerah pinggiran juga tidak berarti ditiadakan,” kata Samiyono kemarin (30/9).

Dijelaskan, salah satu alasan penegakan hukum karena kasus kecelakaan lalu lintas di wilayahnya cukup tinggi. Rata-rata dalam satu bulan terjadi kasus kecelakaan lalu lintas, di antaranya meninggal dunia.

“Saya sering mengelus dada, korban meninggal ternyata masih berusia 14 hingga 17 tahun,” ujar Samiyono.

Dari hasil evaluas pasca razia besar-besaran di titik nol Wonosari, pekan lalu, ada sejumlah persoalan mengenai alasan pelajar menggunakan motor. “Orang tua siswa mengeluhkan minimnya transportasi masal. Sementara sekolah ketika memberlakukan larangan menggunakan motor justru berimbas penurunan jumlah siswa,” terang Samiyono.

Gara-gara muncul larangan menggunakan motor, salah satu sekolah di Playen justru krisis murid. Pada tahun ajaran baru jumlah calon peserta didik berkurang drastis, karena mereka mencari lembaga pendidikan yang toleran terhadap aturan penggunaan motor.

Kapolres Gunungkidul AKBP Nugrah Trihadi menegaskan ketertiban berlalu lintas harus ditegakkan. Dia berharap kerja sama dengan berbagai pihak, di antaranya orangtua siswa, sekolah dan masyarakat.

“Kalau ada anak yang belum cukup umur, kami minta tidak diperkenankan mengendarai motor. Persoalan demikian bukan hanya tanggung jawab polisi,” kata Nugrah. (gun/iwa/mg1)