Uang yang Diberikan Puro Pakualaman Terlalu Sedikit
KULONPROGO – Penggarap lahan Paku Alam Ground (PAG) terdampak NYIA di Temon menolak kompensasi Puro Pakualaman. Mereka menilai kompenasai senilai Rp 25 miliar tidak sesuai kontribusi penggarap yang telah meningkatkan nilai lahan PAG.

Ketua Forum Komunikasi Penggarap Lahan Pesisir (FKPLP) Sumantoyo menyatakan, para penggarap kecewa dan menolak besaran kompensasi tersebut. “Lebih baik uangnya dimakan Puro sendiri daripada sekadar untuk ilo-ilo,” kata Sumantoyo, kemarin (30/9).

Menurut dia, PAG memiliki tanah tersebut tanpa membeli melainkan secara historis. Selain itu, selama ini lahan hanya dibiarkan, hingga digarap warga dan akhirnya nilainya tinggi saat dinilai tim apraisal.

“Jika dulunya Puro memiliki lahan PAG itu dengan cara beli kami tentu tidak akan meminta kompensasi. Tapi dulu cuma tanah sejarah. Tanah persil yang ditulis dengan tinta merah,” ujar Sumantoyo.

Penggarap sudah merasa lelah dengan proses panjang yang harus dijalani untuk mendapatkan kepastian kompensasi. Pihaknya sudah tidak akan melakukan apa-apa lagi, hanya berharap agar Puro Pakualaman berbesar hati dan mengakui kotribusi para penggarap yang sudah menaikkan nilai tanah PAG itu.

“Kami hanya bisa berdoa, semoga Paku Alam X dan Puro Pakualaman dibukakan hatinya untuk masyarakat yang kehilangan mata pencahariannya ini,” kata Sumantoyo.

Sekda Kulonprogo Astungkoro menjelaskan, nilai besaran kompensasi sepenuhnya menjadi hak Puro Pakualaman sebagai pemberi. Pemkab tidak bisa memberi kepastian apapun, kecuali menyampaikan keinginan dan aspirasi warga penggarap PAG.

“Besar kecil tidak selalu memuaskan, yang penting sudah ada sikap yang ditunjukkan sesuai keinginan penggarap. Pemkab juga tak bisa berbuat apa-apa apabila warga penggarap kemudian memilih menolak besaran kompensasi yang akan diberikan. Jika memang dananya dikembalikan, maka harus disertai surat pernyataan,” kata Astungkoro. (tom/iwa/mg1)